Showing posts with label Amerika. Show all posts
Showing posts with label Amerika. Show all posts

Sunday, May 27, 2007

The Indonesian Trip: Tutur Bahasa MTVers

oleh Tika

Konon suatu malam di New York City, saya terbangun dan menyalakan TV stasiun MTV. Ya memang saya sudah tua dan semestinya merubahkan saluran ke stasiun musik para jompo di Amrik bernama VH1. Salah saya sendiri.

Saat itu ditayangkan acara bernama "Yo Momma". Remaja daerah kumuh New York City di kumpulkan berdasarkan "suku daerah" untuk bertarung satu sama lainnya demi membela harkat dan martabat sang "momma" alias ibu. Memang bagi para remaja ini, ibu adalah simbol dari segalanya.

Untuk membela momma tersayang, tiap suku mencalonkan seorang wakil untuk adu tutur bahasa dengan wakil dari suku lainnya. Adu tutur bahasa ini berupa pencorengan harkat dan martabat momma para lawan lewat media berbalas pantun bahasa khas daerah kumuh New York City. Kekalahan terjadi jika seorang wakil tidak bisa lagi membalas caci-maki lawan mengenai sang momma tercinta. Contoh:

Wakil 1: "yo momma's so fat, people jog around her for excercise (Ibu mu gemuk sekali, akibatnya orang suka berolah-raga lari mengelilinginya )".

(note: kegemaran orang2 daerah kumuh new york city adalah untuk adu banding kadar minyak di tubuh/rambut seseorang alias ke-"greasy"-an seseorang)

wakil 2: "yo momma's so greasy Texaco buys oil from her (Ibumu berminyak sekali, Texaco saja beli oli darinya).

(note: kadang untuk mencoreng momma, status ekonomi pun menjadi sasaran, maklum, momma kebanyakan para remaja ini adalah satu-satunya tulang punggung perekonomian keluarga tanpa bapa)

wakil 1: "yo yo .. your house is so run down, only the paint is keeping it up (rumahmu buruk sekali, tanpa ada cat tebal itu, pasti rumahmu akan runtuh).

dst. dst.

Usai acara, para lawan saling berpeluk dan menepuk punggung sebagai tanda rasa hormat kepada sesama anak momma.

Konon suatu malam di Bandung, saya nyalakan TV ke stasiun MTV dan apa yang saya temukan?
"Yo yo yo ..." dst dst.

Waaa... bagaimana nasib cucu penerus bangsa Indonesia kita ini jika tutur bahasa MTVers digunakan sebagai contoh? Konon, MTV adalah stasiun favorit ponakan-ponakan ABG saya.

Yo yo yo!

Monday, May 21, 2007

The Indonesian Trip: Spiderman vs. Mertua Jahat Menantu Malang


oleh Tika

Untuk melalui waktu senggang di Bandung akhir-akhir ini, saya suka sekali menonton film dan TV. Ternyata bermanfaat banyak juga buat saya. Dengan menonton film hollywood terbaru "Spiderman III" di bioskop Blitzmegaplex Bandung, juga seri Hidayah di TV stasiun RCTI berjudul "Mertua Jahat Menantu Malang", saya dapati pemahaman baru mengenai perbedaan konsep baik vs. jahat ala Amerika (Spiderman III) vs Indonesia (Mertua Jahat Menantu Malang).

Berdasarkan pengamatan amat sederhana ini, saya dapati kesimpulan sbb:

Di Indonesia, manusia terbagi atas dua macam jenis, baik atau jahat, garisnya jelas. Orang jahat berlaku jahat karena dia jahat. Orang baik akan selalu berlaku baik karena dia baik. Orang baik bisa tergoda untuk berlaku jahat karena ada dorongan luar dari orang yang benar2 jahat. Orang jahat selalu sadar akan status kejahatannya tapi tidak mau berubah hingga akhirnya tertimpa musibah. Setelah musibah menimpa hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi: si jahat mati atau si jahat sadar dan berubah menjadi baik.

Di Amerika, manusia sama semua. Tiap manusia memiliki kemungkinan untuk berlaku baik atau jahat, garisnya tidak jelas. Dorongan untuk menjadi jahat atau baik berada dalam diri sendiri. Tiap orang bisa tergoda untuk menjadi jahat karena merasa kurang puas dengan apa yang dimiliki dalam dirinya. Orang jahat tidak pernah sadar akan status kejahatannya. Hanya setelah dihadapi dengan suatu pilihan mendesak yang menyangkut sesuatu yang sangat dicintai (misalnya, wanita, karir), baru mereka sadar dan akhirnya memilih untuk selanjutnya terus menjadi orang jahat atau tidak.

Yang menarik di sini adalah sumber sifat baik/jahat manusia Indonesia vs. Amerika. Di Indonesia, sumber ini selalu berasal dari luar diri manusia, baik godaan untuk menjadi jahat atau dorongan untuk berubah menjadi orang baik. Di amerika, sumber selalu berasal dari dalam diri manusia sendiri, bukan dari luar. Alhasil, di Indonesia, perubahan penting dalam diri manusia hanya dapat terjadi jika lingkungan berubah hingga akhirnya manusia menurut dan mau berubah demi kebaikan, sementara di Amerika, perubahan penting hanya dapat terjadi jika diri tiap-tiap manusia mau memilih untuk merubah lingkungannya.

Di Indonesia, manusia adalah konsumen perubahan, di Amerika, manusia adalah agen perubahan.

Wednesday, March 7, 2007

Manusia Super Di Amerika

oleh Tika

Orang-orang Amerika memang manusia super. Mereka dapat menjadi manusia super bukan karena mereka diturunkan untuk menjadi orang-orang super, tapi karena kondisi hidup mereka membuat mereka 'terpaksa' untuk menjadi super.

Individualitas versi Amerika terdefinisikan atas suatu kemampuan tiap manusia untuk dapat berdiri sendiri. Di gedung apartemen saya banyak orang-orang tua jompo yang hidup sendirian. Melihat ini orang Indonesia mungkin akan bertanya, "Apakah mereka tidak punya anak atau apakah memang anak-anak mereka tidak peduli lagi?

Ya, kebanyakan orang-orang jompo ini mungkin punya anak yang mungkin ingin sekali membantu mereka. Tapi sebagian besar orang jompo di Amerika memang memilih untuk hidup sendiri karena mereka ingin tetap dihargai sebagai seorang manusia yang dapat berdiri sendiri. Untuk menghargai kemauan mereka ini, banyak fasilitas tersedia yang dibuat khusus untuk mendukung para jompo agar dapat hidup sendiri di rumah mereka sendiri, sebisa mungkin hingga akhir hayatnya.

Kehidupan para jompo adalah ilustrasi drastis mengenai tabiat kesuperan para warga yang hidup di Amerika. Saat ini saya sedang mengalami dorongan lingkungan yang mengharuskan saya untuk menjadi manusia super. Terus terang, saya menjadi serba kesulitan karena dengan didikan saya sebagai orang kelas menengah di Indonesia, saya menjadi sangat tidak 'biasa'.

Kebanyakan warga Amerika tidak mampu untuk menyewa seorang mba atau mbo untuk mengurus anak mereka yang masih belum beranjak umur untuk memasuki taman kanak-kanak. Usia balita hingga sebelum taman kanak-kanak memang masa yang paling sulit bagi orang tua yang status perekonomiannya sangat marginal.

Sekolah taman kanak-kanak hingga SMU bebas biaya dan anak hampir bisa penuh hari diam di sekolah sementara ibu ayah bekerja. Sebelum masa ini, orang tua seperti ini akan dihadapi berbagai kesulitan. Jika mereka beruntung, bisa saja mereka menitipkan anak mereka di suatu tempat penitipan dengan biaya tidak terlalu mahal walau kualitas mungkin tidak menjanjikan. Kebanyakan warga Amerika harus melalukan ini karena mereka tidak punya pilihan lain. Kedua orang tua harus bekerja untuk dapat mehidupkan keluarga. Sementara filosofi individualitas ala Amerika mengharuskan mereka untuk sebisa mungkin tidak meminta bantuan sanak saudara untuk mengatasi kesulitan mereka ini.

Anehnya, warga Amerika bisa tetap selamat menghadapi masa kritis ini atas upaya kedua tangan mereka sendiri. Tentu kesuksesan ini tidak dapat terjadi tanpa adanya dukungan lingkungan yang menjunjung tinggi nilai individualitas ala Amerika. Sebagai contoh, fasilitas untuk mempermudah dan mempercepat usaha seorang ibu bersama dengan bapa dan anak-anaknya membersihkan lantai, menyuci baju, memasak dsb. beraneka ragamnya, walau tetap memberi kesan bahwa pekerjaan adalah buah hasil usaha kedua tangan mereka sendiri.

Ya saya sangat kagum dengan orang-orang Amerika seperti ini. Terus terang saya sendiri merasa tidak mampu dan harus menelepon ibu saya di Indonesia untuk mengirimkan seorang mba untuk membantu mengurus anak saya. Setelah mba pergi, saya tidak tahan sekali lagi untuk menelepon ibu agar bisa datang mengurus anak saya sementara saya dan suami membanting tulang meniti karir demi masa depan kehidupan keluarga. Ternyata, karena hal-hal diluar kendali, ibu saya tidak juga mampu memberi bantuan seperti yang saya harapkan, dan saat ini saya harus menerima untuk terus bertahan hidup layaknya manusia super di Amerika.

Semoga saya bisa tertularkan tabiat individualitas ala Amerika hingga saya dapat melewati masa-masa kritis ini. Saya baru sadar, bentuk doa orang Amerika ketika dihadapi suatu masalah bukanlah suatu permintaan ketabahan dari Illahi karena doa seperti ini tidaklah cukup. Doa orang Amerika adalah untuk dapat terus berusaha menggunakan kedua tangan mereka sendiri agar dapat dihargai hidup layaknya seorang manusia.

Sunday, February 11, 2007

Bumi Memanas, Katak Tenggelam Dalam Tempurungnya

oleh Tika

Panel International Perubahan Iklim (IPCC), yang terdiri dari sekitar 600 ilmuwan dunia dan 113 wakil pemimpin dunia, menerbitkan pernyataan bahwa bumi akan terus memanas jika manusia tidak cepat merubah gaya hidupnya. Perusakan lingkungan hidup, gaya hidup konsumtif yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca berlebih, adalah sebab dari "pemanasan global" ini. Bahwa pemanasan global bersumber pada ulah manusia memiliki probabilitas lebih dari 90% menurut IPCC.

Lapisan gas rumah kaca pada atmosfer bumi berfungsi untuk menghangatkan bumi. Tanpa lapisan gas ini, bumi akan 33 °C lebih dingin, kehidupan tidak dapat terjadi. Pemanasan global terjadi akibat penebalan lapisan gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Sebagian besar gas rumah kaca yang terakumulasi secara berlebih berupa karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak dan batu bara).



Dalam kondisi "normal", sinar matahari yang menembus atmosfer bumi sebagian akan diserap bumi untuk menghangatkannya, sebagian akan memantul kembali keluar angkasa. Emisi gas rumah kaca yang berlebih menyebabkan sinar matahari yang semestinya memantul terperangkap di bawah lapisan gas yang menebal, bumi pun kian memanas.

Laju rata-rata pemanasan bumi sekitar 0.2 °C per dekade. Dalam skenario terburuknya, bumi akan memanas 2.4-6.4 °C selepas abad-21. Data satelit menunjukkan bahwa sejak dekade 1990-an, ketinggian permukaan laut telah meningkat 3.3 mm per tahun. Penelitian terakhir memperkirakan bahwa ketinggian permukaan laut akan mencapai 1.4 m pada 2100.

Jakarta Banjir? Mengingat 40 % dari wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut, dalam 100 tahun, Jakarta tidak hanya akan mengalami banjir. Jika laju pemanasan global tidak berubah, Jakarta mungkin salah satu kota yang akan lenyap dari permukaan bumi. Sedikitnya 25 % wilayah Jakarta atau sekira 160,37 km2 akan tenggelam pada 2050. Indonesia diperkirakan akan kehilangan sekitar 2,000 pulau pada 2030.



Merubah gaya hidup manusia saat ini menjadi suatu pilihan antara hidup dan mati. Selain kerja keras antar para ilmuwan untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi kondisi pelik ini, perubahan praktis tidak dapat terjadi tanpa kerja sama dan komitmen para pemimpin dunia, terutama mereka yang memegang andil besar dalam kontribusi emisi berlebih gas rumah kaca di muka bumi. Saat ini, negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia adalah Amerika Serikat. Hingga saat ini, dunia masih menunggu komitmen para pemimpin di negara adikuasa ini untuk bersikap.

Menurut mantan wakil presiden Al Gore, kebanyakan warga Amerika Serikat yang berkuasa saat ini, yang semestinya mampu bertindak, menganggap pastinya kontribusi manusia pada fenomena pemanasan global kurang layak untuk diperlakukan sebagai kebenaran karena bertentangan dengan agenda mereka yang berkepentingan: suatu "Inconvenient Truth".

Dalam film dokumenter yang berjudul sama, Al Gore membuat analogi katak dalam cangkir air yang sedang memanas. Seperti sang katak, manusia merasa cukup nyaman dan hanya duduk diam walau suhu air terasa memanas. Ketika air mencapai titik didih, katak tidak dapat bergerak lagi, menunggu detik-detik menuju ajalnya atau adanya tangan yang dapat mengangkatnya keluar. Apa yang akan dilakukan manusia jika air di dalam cangkirnya mencapai titik didih?

Sumber Pustaka:
1. http://www.nature.com/news/infocus/climatechange.html
2. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/09/0101.htm
3. http://www.stopglobalwarming.org/sgw_feature.asp?id=11
4. http://www.wwf.or.id/attachments/pdf/Q&AClimate.pdf

**Ilustrasi didapatkan dari: http://www.ucsusa.org/assets/images/global_warming/ghouse_effect.jpg dan http://www.suarapublik.org/images/Pict2_1.jpg

Thursday, February 8, 2007

Individu dan Kelompok

oleh Roby

Mungkin karena tipe kepribadian atau pekerjaan, saya cenderung jarang berkenalan dengan orang baru. Saya selalu merasa tidak nyaman jika harus memperkenalkan diri ke seseorang. Saya menganggap berkenalan sebagai mengganggu orang, maka saya tidak mau mengganggu orang dengan mengenalkan diri sendiri.

Tapi tentunya berkenalan menjadi bagian hidup yang tak bisa saya hindari. Sejujurnya, saya suka memiliki kenalan baru; yang saya tidak suka adalah awal proses berkenalan karena saya sering tidak tahu harus berbuat apa.

Dari pengalaman pribadi, saya merasakan orang Indonesian dan Amerika memiliki gaya berkenalan yang berbeda. Sebagai pertanyaan pembuka percakapan, orang Indonesia cenderung bertanya daerah asal; bisa kota atau suku asal. Sedangkan orang Amerika (atau orang Indonesia yang tinggal di Amerika) cenderung memulai dengan menanyakan apa yang saya kerjakan.

Ini setidaknya memberikan ilustrasi mengenai perbedaan penilaian seorang individu menurut budaya Indonesia dan Amerika. Yang penting bagi orang Indonesia adalah asal-usul seseorang (ontologis). Disini ada asumsi implisit bahwa seorang individu tidak bisa lepas dari karakter tempat atau suku dimana dia dilahirkan. Nilai individu tidak bisa lepas dari nilai kelompok.

Sebaliknya, Amerika lebih peduli tentang apa yang seseorang perbuat atau kerjakan (pragmatis). Asal-usul seseorang tidak terlalu penting, karena orang Amerika percaya bahwa justru tugas individu untuk menemukan jati-dirinya yang sering berarti lepas dari tempat asalnya.

Tentu teori ini tidak berlaku untuk menerangkan kasus spesifik. Bush menjadi presiden bukan karena apa yang dia kerjakan tapi lebih karena dia keturunan keluarga terpandang. Sebaliknya, Suharto tetap bisa berkuasa meskipun dia adalah anak petani.

Saya hanya mengulang konsep umum bahwa budaya barat yang individualis dan timur yang kolektif juga terekspresikan, secara sadar atau tidak, dalam cara berkenalan.

Kolesterol dan Penyakit Jantung

oleh Tika


Merujuk kepada posting terdahulu yang membahas perubahan diet keluarga kami akibat kadar kolesterol tinggi pada Toby, bocah berumur 3 tahun kami, teman bertanya: bukankah kolesterol tinggi baik untuk balita (ie. membuat otak jadi lebih pintar) hingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan?

Kolesterol tinggi, kata dokter bisa karena diet, akibat adanya keturunan dalam keluarga, atau akibat hubungan timbal balik antara keduanya. Untuk saat ini belum jelas sebabnya mengapa Toby memiliki kadar kolesterol agak tinggi. Perlu test darah ulang untuk Toby dan kedua orang tuanya untuk penyelidikan lebih dalam. Ini masih dalam proses. Tapi memang penanggulangan praktisnya adalah diet.

Kolesterol Toby, kata dokter, sebenarnya tidak terlalu tinggi, terakhir cek 208mg/dl. Batas normal kadar kolesterol untuk Toby kata dokter <170mg/dl. Berdasarkan penelitian referensi saya sendiri, batas normal kadar kolesterol orang dewasa < 200mg/dl, sementara kadar kolesterol >240mg/dl dalam darah bisa meningkatkan kemungkinan penyakit jantung sebanyak 2X.

Kolesterol memang diperlukan oleh tubuh manusia untuk menjaga fluiditas membran sel, komunikasi antar sel (ie. membuat otak jadi "pintar"), pembuatan berbagai jenis hormon dan Vitamin D. Kadar Kolesterol dalam darah yang terlalu banyak, hingga tidak berguna lagi untuk fungsi tubuh, tidak baik karena akan diserap oleh lemak "jahat" (saturated & trans fats) dan menumpuk di dinding-dinding pembuluh darah. Akibat akumulatifnya: penyakit jantung.

Kolesterol bisa didapatkan langsung dari diet, tapi lebih banyak lagi disintesa oleh liver dari lemak. Toby dan keluarga memang akhir-akhir ini lebih banyak makan sumber protein jenis nabati (ie. tahu) yang memiliki kadar kolesterol rendah juga mengandung lebih banyak jenis lemak "baik" (unsaturated & polyunsaturated fat). Lemak "baik" ini berfungsi untuk menghambat penumpukan kolesterol dan lemak "jahat" pada dinding-dinding pembuluh darah. Meningkatkan konsumsi sumber protein jenis nabati adalah pilihan saya untuk lebih praktis saja. Dokter Toby sendiri menganjurkan untuk memberi Toby makanan rendah lemak dan kolesterol (ie. susu rendah lemak dengan konsentrasi lemak 1%, menjauhi makanan yang "digoreng"). Beliau menganjurkan kami untuk mencari buku yang merinci pembuatan menu makan rendah kolesterol.

Fungsi dan distribusi kolesterol dalam tubuh seperti ini menunjukkan bahwa mengurangi lemak total juga kolesterol dalam diet tidaklah cukup. Saat ini badan kesehatan Amerika rekomendasikan untuk menghindari konsumsi lemak "jahat" dan menggantikanannya dengan jenis lemak "bagus", juga diet rendah kolesterol untuk menghindar dari kemungkinan penyakit jantung. Memang penyakit jantung adalah sebab utama kematian orang dewasa di Amerika. Proses pencegahannya paling baik adalah diet yang sehat, terutama jika dibiasakan sebagai gaya hidup semenjak kanak-kanak.

** Ilustrasi didapatkan dari situs http://www.womenone.org/images/chol2_2894.jpg

Tuesday, February 6, 2007

Dompet hilang yang kembali

oleh Roby

Sekitar dua minggu lalu, sehabis merayakan ulang tahun Toby yang ketiga, saya dan Iwan pergi ke Times Square untuk menonton film Pan's Labyrinth(:wikipedia). Sehabis nonton, alangkah terkejutnya saya ketika merogoh saku celana karena dompet saya tidak ada. Kita cepat-cepat kembali ke bioskop untuk mencari tapi hasilnya nihil. Akhirnya saya relakan dompet itu dan atas kebaikan Iwan meminjami uang saya bisa pulang dengan selamat.

Selain uang $40, kartu ATM, sekolah, SIM dan beberapa kertas lain, tidak ada dokumen penting lainnya. Karena sebelumnya saya sudah pernah kehilangan dompet juga.

Kehilangan pertama terjadi dekat kampus saya. Entah bagaimana dompet saya terjatuh. Tapi beruntung dompet saya bisa kembali. Ya kembali secara utuh. Seseorang mengirim email dan menyebutkan dompet saya dititipkan di seorang pegawai kafetaria di kampus. Sepertinya dia menemukan email saya melalui website sekolah saya.

Hari ini, saya mendapat surat yang agak tebal tanpa dilengkapi identitas pengirim. Ternyata isi surat itu adalah seluruh isi dompet saya, minus uang dan dompetnya itu sendiri. Seluruh kartu identitas ada disitu , juga cek yang belum saya uangkan. Jadi bisa dibilang, lagi-lagi, isi dompet saya kembali.

Meskipun uangnya tidak kembali, tapi saya cukup kaget karena ada yang bersedia mengirim isi dompet saya itu kembali. Mengingat kali ini dompetnya hilang bukan di seputar kampus, tapi di pusat keramaian tengah kota (:wikipedia). Mungkin saja uang saya dipakai untuk membeli perangko seharga 78 sen. Tapi saya masih bisa hargai kepedulian dia untuk mengembalikan barang-barang saya. Meskipun tidak berarti banyak karena saya sudah mendapatkan kartu-kartu pengganti yang hilang.

Memang masih ada kebaikan di kota New York.

Monday, February 5, 2007

Toby Masuk Harvard University: Petualangan Sekolah Para Bocah


oleh Tika

Toby, satu-satunya bocah kami yang baru saja merayakan ulang tahun ke-3-nya tanggal 26 Januari 2007 kemarin, baru saja selesai interview pertama sekolah "pre-school" Manhattan, New York City. Kata mama Toby, "Toby mah baru mau masuk sekolah-sekolahan saja sudah di-interview, pertama kali mama di interview kan waktu harus cari kerja setelah lulus kuliah!".

Ya, memang jaman sekarang, apalagi di Manhattan, kebanyakan anak sudah harus masuk sekolah sebelum TK sebagai preparasi masuk TK dan sekolah-sekolah selanjutnya. Memang jaman mamanya Toby, paling seumur Toby ya diam dirumah saja. Ceritanya memang, apalagi di kota se-kompetitif Manhattan, New York City, orang tua anak sudah didorong untuk cepat-cepat cari sekolah hingga anak akhirnya bisa masuk ke sekolah tinggi beken seperti Harvard University.

Dorongan ini mulai di saat masuk "sekolah-sekolahan" atau pre-school ini. Jika sang anak masuk pre-school yang tepat dengan koneksi yang tepat, sang anak bisa masuk TK, yang bisa memasukkan anak ke SD, yang bisa memasukkan anak ke SMP, yang bisa memasukkan anak ke SMA, yang bisa memasukkan anak ke sekolah tinggi tipe Harvard University. Ya sebenarnya tujuannya bukan hanya sekolah tipe Harvard University, tapi dengan sang anak bisa masuk dan lulus dari sekolah semacam Harvard University, anak terjamin bertahan hidup sebagai orang kelas menengah atas di Amerika dan terhindar dari kemelaratan ekonomi di Amerika.

Walau orang tua Toby tidak terlalu terdorong untuk berkompetisi dengan konglomerat, pejabat dan warga Amerika ultra kompetitif lainnya yang suka sekali bercita-cita memasukkan anak mereka ke Harvard University, Toby tetap didaftarkan oleh orang tuanya untuk masuk pre-school cukup ok karena kedua orang tua Toby terlalu sibuk dengan program studi Doktor mereka. Pre-school ok ini digunakan kedua orang tua Toby sebagai tempat penitipan sampingan saatnya tidak bisa diurus mama atau papanya di rumah.

Karena pengalaman buruk setahun sebelum ini, dimana Toby terpaksa harus drop out dari satu-satunya pre-school "asal" yang didaftarkan mama setelah sang mba pengurus Toby pergi balik ke Indonesia, hingga mamanya terpaksa drop out sementara dari program Doktornya untuk mengurus Toby dirumah, tahun ini Toby di daftarkan untuk masuk beberapa pre-school yang cukup ok.

Untuk masuk pre-school Manhattan manapun, memang diperlukan pendaftaran kira-kira satu tahun sebelum anak mulai masuk sekolah. Jika ternyata setelah tahun ajaran mulai dan diketahui bahwa sekolahnya jelek dan anak harus drop out, tidak ada lagi pre-school yang terbuka untuk bisa menampung anak karena semua sudah penuh. Ini yang terjadi oleh Toby tahun lalu.

Tentu, preschool yang didaftarkan orang tua Toby tahun ini bukan tipe pre-school yang kebanyakan konglomerat dan pejabat Manhattan dafarkan anak-anak mereka, tapi cukup ok hingga Toby tidak terganggu mental dan fisiknya, juga cukup ok karena memberi Toby peluang pula untuk "mungkin" bisa bertemu teman-teman, orang tua dan guru yang punya latar belakang ala Harvard University, jika tidak koneksi langsung untuk benar masuk ke jalur sekolah-sekolah menuju Harvard University. Untuk masuk tipe pre-school ok di Manhattan, persyaratan utama adalah interview sang anak sebagai proses penyeleksian.

Ya, sore ini Toby baru selesai interview pertama pre-school ok ini. Pre-school yang Toby usaha masuki ini dikategorikan sebagai tipe "Co-op" karena orang tua diharuskan untuk turut serta aktif dalam proses pencarian dana sekolah dan berbagai aktifitas ringan anak-anak disekolah. Karena jenisnya cukup ok, kompetisi untuk masuk ke pre-school ini cukup ok pula, walau tidak se-heboh pre-school para konglomerat dan pejabat tinggi Manhattan.

Dalam interview Toby tadi, Toby dan orang tua diharuskan datang, bersama dengan beberapa calon murid dan orang tua lain, untuk saling berinterkasi dalam ruang main pre-school. Ada satu guru dan pemimpin pre-school yang turut serta berinterkasi dengan anak dan orang tua, tapi mereka lebih berfungsi untuk menilai apakah para calon anak dan orang tua "cocok" untuk diterima masuk pre-school mereka. Tentu Mama Toby tidak tahu secara pasti kriteria mereka ini apa, yang jelas pastinya Toby jangan sampai ngamuk didepan guru dan berkelahi dengan anak-anak lain. Mama Toby wanti-wanti agar Toby jangan lupa untuk tidak ngamuk dan rebutan mainan di depan guru. Selebihnya, mama Toby pikir, Toby jadi Toby saja deh. Menurut mama, Toby anak yang cukup ok ko dengan sendirinya.

Toby tentu senang-senang saja main di sekolah karena banyak sekali mainan dan ruangannya sangat luas, suasana yang sangat beda dengan apartemen Toby yang pada musim dingin ini merupakan tempat Toby berlindung sehari-harinya dari kebekuan suhu luar. Mama dan papanya Toby juga senang dengan sekolah ini karena guru-gurunya baik-baik, juga karena filosofi sekolah ini sangat cocok dengan tipe Toby dan keluarga.

Di sekolah ini, anak-anak tidak "diajari" tapi anak di semangati untuk bereksplorasi dan berkembang secara sosial dan intelektual dengan "bermain" dan "bergaul" dengan anak-anak lain. Tidak ada pelajaran spesifik seperti "bahasa dan berhitung" dimana guru berdiri di depan kelas dan mengajarinya ke anak-anak. Tidak ada jadwal atau kurikulum khusus pula dalam keseharian anak bersekolah. Kurikulum berkembang berdasarkan minat sang anak.

Di sekolah ini, ruangan dibagi atas tema-tema tertentu dimana sang anak bisa bereksplorasi. Ada sudut "seni", "sains", "membaca", "teater", "rumah-rumahan", "balok" dsb. dimana anak-anak dengan bebas bisa secara bergantian melakukan eksplorasi dengan pengawasan guru. Tentu, pada saat-saat tertentu, anak-anak diharapkan untuk berkumpul di depan guru untuk melakukan eksplorasi dalam bentuk kelompok. Papanya sangat suka dengan sekolah ini karena guru-gurunya terlihat sangat respek dengan individu sang anak.

Untuk interview ini, Toby dan kawan-kawan berexplorasi di sudut "balok", juga sudut "rumah-rumahan" dan sudut "membaca". Toby sibuk sekali di bagian dapur rumah-rumahan. Mamanya pikir, ya sepertinya Toby terlalu banyak gaul dengan mama saja di rumah jadi hobinya ke arah ini. Mama agak malu karena setelah melihat gerak-gerik Toby di dapur mainan ini, ko spertinya mirip dengan gerak-gerik dan expresi muka mama jika sedang sibuk di dapur.

Tapi Toby juga suka main di bagian balok. Mama agak bangga karena Toby memperlihatkan ke guru bahwa Toby sudah pintar berinitiatif menyortir balok berdasarkan bentuknya dengan benar tanpa suruhan sang guru. Dan karena memang pada dasarnya Toby anak cerewet, Toby bisa menjawab omongan dan pertanyaan guru tanpa malu-malu. Moga-moga semua ini bisa jadi poin besar bagi Toby untuk bisa diterima masuk sekolah ini semester depan.

Setelah sekitar 30 menit, sang guru mengumumkan anak-anak untuk mulai membereskan mainannya ke tempat asal. Nah, ini memang kerjaan favorit Toby: untuk memasukkan segala sesuatu ke tempat asal dengan baik dan benar. Toby sempat merasa tidak enak melihat ada satu mainan yang pintunya terbuka dan melapor ke mama untuk menutupnya. Mama jawab, "biar saja nanti bu guru akan menutupnya". Ternyata Toby jadi melapor ke sang guru dan guru menjawab "ya tak apa Toby, biarkan saja pintunya", Toby diam berpikir dengan dahi berkerut dan rasa yang masih agak gelisah.

Kedua orang tua Toby berharap Toby bisa lolos masuk ke sekolah ini. Esok hari, Toby akan interview lagi untuk sekolah lain. Toby sudah mendaftar ke 4 sekolah untuk mulai masuk September 2007. Kedua orang tua Toby berharap Toby bisa lolos masuk ke semua sekolah yang didaftarkan!

Kompetisi untuk lolos interview pre-school di New York City, bisa jadi sangat menyeramkan. Ada cerita dimana sang orang tua menyajikan kopi ke sang anak sebelum interview agar anak menjadi "aktif". Ada anak-anak yang di teror orang tua dengan pengetahuan mengenai huruf-huruf, nomor dan simbol-simbol berminggu-minggu sebelum interview jadi anak bisa terlihat "pintar". Ada sekolah yang mengharuskan orang tua untuk menulis esai mengenai bagaimana anak mereka bisa lebih hebat dari calon murid lain. Bahkan ada yang menyajikan uang "imbalan" ke sekolah-sekolah agar sang anak bisa lolos masuk. Ya, ini terjadi di jenis pre-school ultra kompetitif, yang sering diminati oleh para konglomerat, pejabat tinggi dan orang-tua super kompetitif di Manhattan, New York City.

Untung saja, Toby bisa sedikit bebas dari teror kehidupan seperti ini karena kedua orang tua Toby memilih untuk tidak hidup di bawah teror. Jika semua gagal, tak apa-lah, mamanya Toby siap untuk melepaskan ke-Doktorannya untuk mengurus Toby hingga siap masuk TK.

**Ilustrasi: Toby dan "Cousin" Kai di depan pintu Sesame Street

Thursday, February 1, 2007

Ingin Jadi Vegan Di New York City: Puncak Gaya Hidup "Modern" ?

oleh Tika

Semenjak menginjak kaki di New York City, saya jadi banyak mengenal orang-orang penganut aliran 'Vegan'. Saya baru mengenal istilah ini setelah tinggal di New York City. Dahulu kala, saya pikir dunia hanya terbagi atas orang-orang seperti saya vs. orang pemakan sayur-mayur (Vegetarian). Ternyata dunia lebih kompleks dari ini dan ada orang-orang di dunia ini yang menganut aliran anti produk apapun yang terbuat dari binatang. Inilah kelompok orang-orang Vegan. Selain anti dengan produk binatang, mereka berusaha hidup gaya minimalis. Vegan adalah suatu filosofi dan gaya hidup.

Saya istilahkan sebagai "gaya minimalis" untuk menjelaskan filosofi hidup mereka yang hanya menggunakan apa yang telah disediakan di alam se-minimal mungkin. Berusaha mencintai sesama mahluk hidup. Berusaha memperlihatkan aura ketenangan dalam interaksi sesama manusia. Kebanyakan Vegan tidak menganut aliran agama lain, dan banyak diantara mereka yang "Ateis", walau teman saya yang Vegan percaya pada Tuhan dan memiliki latar belakang agama Katolik.

Ternyata setelah 6 tahun tinggal di New York City saya mulai ketularan ingin mengikuti gaya hidup kelompok Vegan. Ini terjadi terutama setelah beberapa kali mencicipi jenis makanan ala Vegan, juga karena dokter telah menvonis bahwa bocah 3 tahun kami kemungkinan memiliki kadar kolesterol tinggi dalam test darah terakhir. Ini memaksakan saya untuk memodifikasi menu makan sehari-hari dirumah.

Menyantap makanan Vegan sebagai alternatif memang menjadi lebih mudah daripada harus menyusun menu sendiri karena jenis makan seperti ini dapat dengan mudah saya temukan di berbagai pelosok toko makanan dan supermarkat-supermarket di New York City. Ternyata makanan Vegan yang isinya biji-bjijian sebagai alternatif protein binatang dan sayur-mayur cukup nikmat, sedikit mengingatkan saya kepada makanan Sunda yang sungguh saya sukai. Dengan menyantap protein alternatif ini bersamaan dengan kadar sayur-mayur yang tinggi, saya dapat dengan mudah menurunkan kadar kolesterol dalam diet keluarga. Selain nikmat, setelah menyantap jenis makanan ini tubuh terasa lebih "tenang". Saya bisa melakukan aktifitas sehari-hari dengan otak yang lebih jernih dan gerakan fisik yang lebih "gesit" dari sebelumnya.

Ya memang gaya hidup Vegan sungguh menarik bagi saya. Mungkin jika memang saya akhirnya menetap di New York City saya akan berubah menjadi seorang Vegan? Perhatikan bahwa gaya hidup ini tidak banyak ditemukan selain di kota-kota besar di Amerika. Di kota-kota kecil Amerika, yang dikenal dengan istilah "Suburbia", justru yang terjadi adalah sebaliknya: lebih banyak orang hidup bergaya konsumtif tinggi, termasuk perihal diet, dan memang gaya konsumtif seperti ini lebih umum dilabel sebagai gaya hidup ala "Amerika", terutama oleh mereka yang tidak pernah tinggal di Amerika.

Tapi memang sulit bagi saya untuk menjadi Vegan penuh karena saya seorang Muslim yang seharusnya menerima produk binatang dalam makanan dan materi hidup sehari-hari sebagai sesuatu rezeki Allah yang harus dimanfaatkan. Ya mungkin saja, seperti yang sering terjadi di New York City, perbenturan budaya yang terjadi dalam diri saya akan melahirkan metamorfosis kultur baru ala Amerika.

Memang gaya hidup Vegan memerlukan teknologi dan kreatifitas yang cukup tinggi. Seoarang Vegan diharapkan untuk selalu mencari alternatif selain produk binatang untuk melakukan kompleksitas aktifitas yang kita ketahui sebagai kehidupan "modern". Sebagai pemerhati awam evolusi kebudayaan, menurut saya, Vegan tidak akan mungkin lahir sebagai suatu gaya hidup tanpa adanya pengalaman konsumtif kehidupan modern. Sebagai ilustrasi, sepertinya tidak mungkin seseorang yang tinggal di suatu desa di Jawa berubah menjadi seoarang Vegan karena Ia tidak pernah terpaksa untuk memikirkan dan mengalami akibat dari kultur hidup "modern".

Wednesday, January 31, 2007

Sindroma Kaki Gelisah

oleh Tika

"Restless Leg Syndrome (RLS)" atau saya akan secara bebas terjemahkan sebagai "Sindroma Kaki Gelisah" adalah suatu gejala klinis yang baru-baru saja di nobatkan sebagai "penyakit" di Amerika saat ini. Ya, bahkan para dokter di Amerika pun banyak yang tidak tahu adanya "penyakit" RLS ini dan akibatnya, banyak yang tidak mampu untuk mendiagnosanya secara tepat. Saya sendiri mengenal adanya penyakit ini akibat promosi gencar-gencaran perusahaan obat X dalam beberapa iklan dramatis di TV Amerika mengenai obat anti RLS.

Bayangkan anda sedang duduk, menikmati saat-saat istirahat anda diatas kursi malas kesukaan anda. Mungkin anda sedang asik membaca koran, atau menonton acara di TV. Tiba-tiba, entah kenapa, anda merasakan adanya ketidak-nyamanan menjalar dari telapak kaki anda, perasaan menggelitik yang tidak bisa hilang hingga akhirnya anda harus beranjak dari tempat duduk anda. Kadang perasaan ini muncul pula ketika anda sedang berusaha tidur di malam hari. Ya, jika anda sering merasakan ini, kemungkinan besar anda mengidap penyakit RLS. RLS adalah suatu penyakit neurologis yang menyebabkan para penderitanya harus bangkit dan menggerakkan kaki walau sebenarnya yang diinginkan adalah kaki untuk diam bukan bergerak. Sepertinya terjadi suatu konflik antara aktifitas neuron-neuron di otak dengan gerakan otot-otot pada kaki para penderita RLS.

Berulang kali menyaksikan tanyangan iklan RLS di TV, saya akhirnya berkesimpulan bahwa sepertinya saya adalah salah satu dari penderita penyakit RLS ini, walau pada tahapan yang cukup ringan. Tiap sebelum tidur, saya harus bangun dan pergi ke kamar mandi hanya untuk menghilangkan perasaan menggelitik di kaki. Kadang perasaan ini muncul pula jika saya diharuskan duduk diam untuk mendengar suami saya Roby sedang curhat. Sering Ia merasa kesal akibat kelakuan saya ini. Ya, detik ini pun, saya sedang mengalami sedikit serangan RLS, walau mungkin karena tangan saya sedang bergerak mengetik tulisan ini dan kaki saya bisa bebas untuk bergerak sedikit-sedikit, saya bisa menahan rasa untuk bangkit dari tempat duduk saya ini. Dan sepertinya, untuk saat ini, serangannya cukup ringan hingga tidak mengharuskan saya untuk bangkit dan menggerakkan kaki.

Walaupun Sindroma Kaki Gelisah ini sering kali menggangu kenyamanan saya bahkan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya, sepertinya saya akan menahan diri dulu untuk bergegas pergi memaksa dokter saya menulis resep pil anti RLS. Ya, hingga saat ini saya masih bisa bertahan dan cukup bersedia untuk bangkit dari kenyamanan kursi atau tempat tidur saya pada saatnya saya mengalami serangan akut Sindroma Kaki Gelisah. Tentu untuk lebih pasti bahwa benar saya mengidap penyakit RLS, ada baiknya saya jenguk dokter pribadi saya. Tapi sepertinya, mengingat begitu barunya penobatan RLS sebagai suatu "penyakit", kemungkinan besar dokter saya pun tidak akan mampu untuk mendiagnosa keadaan ini lebih baik dari diri saya sendiri.

Wednesday, January 24, 2007

Politik Dinasti

oleh Roby

Hillary Clinton baru saja resmi mencalonkan diri menjadi kandidat presiden Amerika. Jika dia terpilih, maka Amerika akan dipimpin oleh dua keluarga selama dua dekade: Bush, Clinton, Bush, Clinton.

Jika terjadi, ini memang cukup ironik karena terlihat bertentangan dengan salah satu idealisme Amerika yaitu meritokrasi (meskipun riset tentang mobilitas ekonomi menunjukkan kemungkinan orang miskin menjadi kaya dan kaya menjadi miskin di Amerika tidak terlalu berbeda jauh dengan Inggris dimana sekat sosial masih kuat).

Meskipun demikian, seorang presiden tetaplah individu bukan keluarga.

Contohnya adalah ketika presiden Bush kedua bersiap-siap akan menyerang Irak, dia sama sekali tidak meminta nasihat dari satu-satunya orang yang punya pengalaman menyerang Irak: sang ayah presiden Bush pertama. Memang tidak jelas apakah jika kedua presiden tersebut saling bertukar pikiran maka hasilnya akan lain. Tapi ini cukup menunjukkan bahwa diantara ayah dan anak pun bisa ada jurang cukup lebar. Sebagian orang menganggap ini sebagai cara sang presiden Bush kedua untuk menunjukkan bahwa dia mampu menangani masalah sendiri tanpa perlu meminta bantuan ayah.

Efek negatif dari dinasti politik yang paling sering kita dengar adalah nepotisme dimana hubungan keluarga membuat orang yang tidak kompeten memiliki kekuasaan. Tapi hal sebaliknya pun bisa terjadi, dimana orang yang kompeten menjadi tidak dipakai karena alasan masih keluarga.

Seorang kolumnis koran New York Times mengusulkan jika Hillary Clinton terpilih menjadi presiden sebaiknya dia menunjuk suaminya Bill Clinton yang dikenal sebagai politikus sangat berbakat untuk menjadi menteri luar negeri.

Meskipun kemungkinan untuk ini kecil, tapi menarik mengamati sampai sejauh mana isu nepotisme bakal menjadi perhatian publik dan politikus Amerika.

Wednesday, January 17, 2007

Hollywood

oleh Roby

Kampus saya, Columbia University, sering dipakai tempat untuk
pengambilan film. Beberapa film terkenal yang memakai Columbia adalah
Ghostbusters dan Spiderman (ceritanya, Peter Parker pertama kali
digigit laba-laba di lab Columbia dan selanjutnya dia sekolah disitu).

Saya dan istri senang melihat-lihat kesibukan saat pengambilan film
ini. Selain melihat aktor-aktor terkenal dari dekat, saya kagum dengan
begitu rumitnya proses pengambilan film. Sehari sebelumnya, biasanya
kampus telah dikelilingi oleh belasan truk-truk trailer raksasa yang
berisi generator, pakaian, tempat rias aktor hingga tempat makan.
Semuanya dilakukan secara profesional, bahkan figuran yang kerjanya
hanya lalu lalang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan film atau
mereka yang sedang belajar seni peran. Tidak ada detail yang terlewat
atau dibiarkan begitu saja, semuanya direkayasa secara rapi.


Saya terkesan oleh kerja keras dan profesionalitas mereka ini. Dalam
hati saya berpikir, hanya untuk membuat film yang notabene adalah
hiburan, dikerjakan dengan tingkat keseriusan yang tinggi. Saya
terkesan. Saya pikir ini contoh kebudayaan tinggi dimana begitu besar
usaha dan sumber daya demi hiburan.

Sekarang pikiran saya lain.


Anda yang pernah menonton film War of the Worlds pasti ingat adegan
dimana sebuat pesawat jumbo jet B-747 jatuh di sebuah daerah pemukiman
di pinggir kota. Reruntuhan pesawat itu adalah pesawat asli B-747 yang
dipreteli dari tempat pembuangan pesawat dan dibawa satu persatu bagiannya ke studio di California yang lalu di bangun kembali. Selain itu mereka pun membuat reruntuhan rumah-rumah yang rusak dan terbakar. Barang rongsokan dan sampah berserakan dimana-mana (setiap posisi sampah adalah hasil pengaturan yang teliti). Totalnya, tidak kurang dari $500 ribu dihabiskan untuk membuat settingnya. Adegan di setting ini masuk ke filmnya selama 3 menit.


$500 ribu habis untuk adegan 3 menit, itulah Hollywood.


Jika sebelumnya saya berpikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan
tinggi, sekarang saya pikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan yang
sakit.


Dibanding film alternatif, saya sering lebih suka film Hollywood.
Mungkin Hollywood ada bagusnya juga, paling sedikit membuat orang
seperti saya terhibur. Hollywood mungkin dunia material sempurna;
dimana orang-orang yang pintar, kreatif, cantik, tampan, berkuasa dan
kaya bersatu. Hollywood jelas lebih populer di dunia dibanding
pemerintah Amerika. Pemerintah Amerika harusnya belajar dari Hollywood
bagaimana caranya agar bisa menguasai dunia.

Friday, January 12, 2007

Siapa Musuh Amerika?

oleh Roby

Di tulisan ini, saya mengutip laporan komisi 9/11 tentang siapa musuh Amerika menurut komisi tersebut: musuh Amerika adalah terorisme Islamis.

Saya jadi penasaran dan membaca lebih jauh apa definisi terorisme islamis menurut komisi 9/11.

Berikut petikan dan terjemahan bebasnya:

Terorisme islamis adalah turunan langsung dari Islamisme. Islamisme berbeda dengan Islam, Islam adalah agama dan budaya yang telah ada sejak lebih dari seribu tahun lalu, sedangkan Islamisme adalah fenomena politik/agama yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa besar di abad 20.


Maka itu, menurut Komisi 9/11, muslim (sebagai pemeluk agama Islam) berbeda dengan islamis (sebagai penganut ideologi islamisme). Selanjutnya,

Islamisme didefinisikan sebagai gerakan militan Islam anti demokrasi yang memiliki pandangan holistik tentang Islam dan bertujuan mengembalikan sistem kalifah.


Selain itu, juga ditulis,

Gerakan Islamisme lahir di tahun 1940an sebagai produk dunia modern dan dipengaruhi konsep Marxis-Lenin tentang organisasi revolusioner.



Sumber: Laporan komisi 9/11, halaman 562. Di buku laporan tersebut disebutkan berbagai referensi darimana definisi-definisi di atas diambil.