Wednesday, February 21, 2007
Ekonom
Selamat datang para pembaca blog terkenal Cafe Salemba
Saya sudah bertobat untuk tidak menggoda ekonom lagi, jadi anda tidak akan menemukan posting yang menggoda ekonom di blog ini. Saya sudah berdamai dengan ekonom, malah sekarang sedang berusaha melakukan riset bersama dengan seorang ekonom.
:D
Peradaban pura-pura?
Seorang kawan pernah mengatakan bagaimana dia sudah bosan tinggal di New York dan ingin segera pulang ke Indonesia. Saya tanya alasannya mengapa, dia jawab karena dia bosan berpura-pura. Dia mencontohkan bagaimana muaknya melihat kawan sekantornya yang mengatakan bahwa sesuatu great padahal dia membencinya.
Saya pikir memang ada benarnya apa yang dikatakan kawan itu. Sepertinya semakin maju sebuah peradaban semakin pintar orangnya untuk berpura-pura.
Lalu saya tidak pernah memikirkannya lagi. Juga kawan saya itu tidak jadi pulang ke Indonesia karena dia jatuh cinta dengan Yoga dan katanya dia hanya akan pulang ketika dia sudah menjadi instruktur Yoga (dia yoga 6 kali seminggu).
Di rumah saya sekarang, selain dipenuhi buku-buku tentang William James, pragmatisme dan sejarah Amerika juga dipenuhi semua buku mengenai Kartini yang ada di perpustakaan kampus saya.
Saya sedang tertarik melihat bagaimana Kartini berinteraksi dengan peradaban barat dan implikasinya. Banyak apa yang saya pikirkan sekarang sudah dituliskan oleh Kartini seratus tahun yang lalu.
Dan ini salah satu contohnya:
Berkali-kali kami menyaksikan adegan cium-ciuman yang memuakkan antara orang-orang yang kami tahu benar saling membenci. Yang berbuat demikian itu bukan 'nona-nona Indo' yang selalu dipandang rendah oleh kaum totok, melainkan nyonya-nyonya totok itu sendiri, yang katanya 'beradab' dan 'berpendidikan tinggi'. Kadang-kadang kami tanya pada diri sendiri: apakah peradaban itu? Apakah itu ....kemahiran untuk main pura-pura? Untuk bertingkah laku munafik?
Tentunya kita bisa membalikkannya dengan menunjukkan orang jawa justru sering dianggap doyan berpura-pura. Ini bukan soal ilmiah yang harus diputuskan benar atau salah; saya melihatnya sebagai ekspresi pengalaman.
PS: ada satu kesamaan antara Kartini dan William James: keduanya rajin sekali menulis surat. Keduanya rajin membanjiri kerabatnya dengan surat. Jika saja saat itu sudah ada blog, saya yakin blog Kartini dan William James sangat aktif dan menarik dibaca.
Monday, February 19, 2007
Kartini dan mahasiswa salon

oleh Roby
Saya terhentak membaca tulisan kawan ini
...Kita sudah terlalu lama dipaksakan versi yang itu-itu saja. Akibatnya ketimbang menempatkan Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita yang sewajarnya, bahkan ironis (walau pikiran-pikirannya jauh ke depan, dia tetap bertindak layaknya wanita di jamannya), bangsa Indonesia sudah terlanjut mengkultuskan sosok ini
Ketika saya masih memikirkan kenapa merasa terhentak, kawan lain menuliskan ini:
...merasa sebagai mahasiswa ’salon’ tidak berguna.
Lagi-lagi saya merasa sedikit terhentak.
Kenapa?
Ada dua hal.
Pertama, karena Kartini adalah pahlawan bagi tipe orang seperti saya: orang yang bekerja dalam bidang ide. Sebetulnya untuk Kartini, sosok dia lebih besar daripada pejuang ide. Dia juga membangun sekolah dan ingat dia melakukan semua ini di usia muda awal 20an (umur segitu, saya lebih banyak bengong daripada memikirkan hal serius). Kartini bukan hanya pejuang perempuan, tapi dia adalah pejuang intelektual.
Saya merasa sebagai penerus Kartini: percaya bahwa individualisme (bukan egoisme) adalah hal yang kurang di Indonesia. Saya juga setuju dengan Kartini bahwa pendidikan adalah jalur pemupukan individualisme ini. Pendapat saya juga sama dengan Kartini bahwa terlalu sulit untuk menyebarkan ide ini ke lapisan sosial bawah sehingga pendidikannya lebih terfokus untuk para elit bangsawan; karena juga mereka lah yang banyak menentukan opini luas. Perdebatan intelektual lebih sering terjadi di level elit.
Kedua, karena saya termasuk mahasiswa salon. Saya suka berbicara mengenai ide abstrak dan teoritis. Saya tidak terampil dengan tangan; jika ada yang rusak di rumah, istri saya yang membetulkannya, juga dia yang merakit lemari atau kursi. Waktu mahasiswa, saya ikut2an berdemo reformasi dan lari tunggang langgang ketika ada tentara mengarahkan senapannya ke arah saya (sejak itu saya merasa ilmu sosial lebih penting daripada fisika). Saya tidak memperjuangkan orang miskin atau tertindas - meskipun tentu sebagai manusia saya memiliki empati untuk itu.
Intinya adalah saya ingin mengatakan bahwa mereka yang bergerak di bidang teori pun perlu tempat. Jangan disepelekan karena dianggap tidak berjuang secara riil (seperti Kartini yang dibandingkan dengan Cut Nya Dien atau Dewi Sartika) atau disebut dengan ungkapan sinis seperti 'mahasiswa salon'.
Bukan berarti saya terlalu menganggap serius diri saya. Saya tidak merasa intelektualisme adalah sesuatu yang spesial. Jika bisa memilih antara intelek dan wajah tampan, saya akan memilih wajah tampan. Karena intelek biasanya hanya membuat orang kesal karena dianggap nyeleneh. Sedangkan wajah tampan mampu membuat orang senang; tidak ada kepuasan yang melebih dari membuat orang lain senang.
Lagipula, saya bukan seorang intelek yang spesial. Saya tidak pernah menjadi juara kelas atau meraih prestasi/penghargaan dalam bidang apapun (oh, pernah juara 3 perlombaan band antar kelas se SMA). Sewaktu SMP saya rangking 30an dan semasa SMA rangking belasan dan saya lulus dari ITB dengan IPK dibawah 3. Saya melamar menjadi dosen ITB dan ditolak. Maka itu saya pergi ke New York, dan saya beruntung Columbia mau menerima saya.
Intinya, ada kekuatan yang lebih besar dari manusia. Jimi Hendrix mengatakan dia tidak berusaha menulis musik genius, dia hanya merasa harus mengeluarkan bunyi-bunyian yang ada di kepalanya. Setiap orang mengikuti bunyi drum yang dia dengar. Tapi ingat juga kata Marx: Men make their own history, but they do not make it as they please. Jadi fakta bahwa Kartini tetap menikahi Joyodiningrat bukanlah ekspresi kelemahan. Manusia juga manusia.
Wednesday, February 14, 2007
Gaya Baca Buku
oleh Roby
Poltak membahas bagaimana dia gila buku dan bisa membaca cepat sehingga dia sekarang memiliki target untuk menghabiskan satu buku per minggu. Dia juga membedakan antara membaca dan memiliki buku, menurut dia
memiliki buku itu gampang -- tetapi membacanya sampai habis, itu soal lain...
Setiap orang tentu punya gaya masing-masing (saya nggak tau gaya si gila buku satu lagi ini apa), dan gaya saya membaca buku adalah begini. Oh ya, ini hanya berlaku untuk buku yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Saya tidak merasa harus membaca buku sampai habis. Yang paling penting buat saya adalah apa yang saya peroleh dari buku itu. Kadang dari satu buku, hanya satu kalimat yang memberikan kenikmatan tiada terkira. Jadi yang saya cari adalah kenikmatan itu. Kenikmatan ketika ide membentuk reaksi berantai di kepala.
Saya jarang merasa senang ketika berkata "saya sudah membaca buku itu sampai habis". Saya lebih senang ketika mencomot ide dari satu paragraf dan menceritakannya kenapa ide itu menarik.
Maka itu saya cenderung memiliki banyak buku. Malah saya baru menemukan salah satu kunci kebahagiaan: bacalah 10 buku sekaligus saat bersamaan. Kebahagiaan adalah terlepas dari kebosanan. Karena ada 10 buku yang sedang dibaca maka dijamin kita tidak pernah merasa bosan. Ambil satu buku dan ambil terus sampai ada ide menarik yang menyerap perhatian kita sehingga membuat kita semangat kembali.
Jadi saya tidak melihat buku sebagai tugas dimana harus dibaca habis. Buku adalah seperti TV; kita tidak pernah menonton semua acara TV tapi dia selalu ada jika kita ingin menonton. Jadi semakin banyak buku yang belum terbaca habis berserakan di rumah kita, semakin banyak pilihan kita, dan semakin tinggi probabilitasnya untuk menemukan ide menarik. Dan menemukan ide menarik adalah salah satu puncak kebahagiaan.
ilustrasi: koleksi pribadi.
Tuesday, February 13, 2007
Soal Paten Penyakit
oleh Roby
Baru-baru ini, Indonesia dipojokkan karena dianggap mengambil langkah kontroversial dengan menghentikan kerja-sama dengan WHO dalam hal analisis virus flu burung (blog Indonesia lain yang sudah membahasnya adalah Indonesia's Economy Blog - Sarapan Ekonomi dan ini).
Langkah yang dianggap kontroversial adalah Indonesia memilih menjual virus flu burung tersebut ke sebuah perusahaan Amerika dibanding mengirimkannya ke pusat studi WHO.
Sepintas, keputusan ini menjadi satu dari sekian banyak kebodohan Indonesia yang patut dikecam. Flu burung mengancam dunia dan sudah sepantasnya data mengenai virus tersebut disebarluaskan secara bebas.
Tetapi sebetulnya langkah Indonesia ini hanyalah satu ilustrasi dari masalah yang lebih umum tentang pemakaian paten dalam riset kesehatan.
Indonesia pantas kesal terhadap WHO karena data virus yang dikirim ke WHO ada yang dipakai dan lalu dipatenkan oleh perusahaan-perusahaan pembuat obat dan vaksin. Sungguh konyol jika virus asal Indonesia tersebut dipatenkan oleh perusahaan asing yang lalu menjual obatnya dengan harga yang tak terjangkau oleh Indonesia. Selain harga yang tak terjangkau, sangat mungkin Indonesia tidak akan kebagian jatah vaksin karena negara kaya dan negara pemilik perusahaan tersebut akan memperoleh vaksin terlebih dahulu.
Dengan menjual virus ke perusahaan Amerika tersebut, Indonesia dipastikan memiliki akses yang cepat dengan harga terjangkau untuk vaksin jika saja pandemi terjadi. Jadinya ini hal yang rasional dilakukan Indonesia.
Meskipun demikian, media massa barat membuat seolah-olah ini adalah perilaku buruk Indonesia yang patut dikecam; virus tidak berhak dimiliki oleh sebuah negara.
Menurut saya, yang patut dikecam adalah tidak adanya sistem yang adil dalam mengatur soal hak paten dalam bidang kesehatan. Indonesia hanyalah salah satu korban dari permainan ini.
Jangankan virus, dalam sistem sekarang, gen manusia pun dapat dimiliki oleh sebuah perusahaan.
Akibat perusahaan memiliki hak paten terhadap sebuah gen, misalnya, harga untuk pendeteksian kanker payudara menjadi tiga kali lipat lebih mahal. Data genome untuk hepatitis C dikuasai oleh sebuah perusahaan sehingga peneliti yang ingin melakukan penelitian hepatitis C harus membayar mahal; sehingga tidak heran para ilmuwan memilih meneliti penyakit yang tidak harus membayar mahal (sampai sekarang belum ada vaksin untuk hepatitis C dan biaya terapinya sangat mahal Rp.2juta untuk satu kali suntik, dan perlu disuntik kira-kira setiap minggu selama kurang lebih 6 bulan sampai satu tahun - di Indonesia penyakit ini cukup banyak).
Sekarang ini, tidak kurang dari 20 patogen penyebab penyakit manusia hak patennya dimiliki oleh perusahaan komersil.
Inilah sulitnya menjadi negara lemah dan miskin. Bertindak demi kepentingan rakyat sendiri dituduh sebagai kepicikan tiada terkira. Padalah negara-negara yang menuduh itu melakukan hal yang sama atau malah lebih jahat, kemunafikan yang tiada terkira.
UPDATE: Sebuah opini di kompas membahas hal yang sama.
ilustrasi: virus H5N1 (http://buzz.smm.org/buzz/media/images/H5N1.preview.jpg)
Sunday, February 11, 2007
Bumi Memanas, Katak Tenggelam Dalam Tempurungnya
Panel International Perubahan Iklim (IPCC), yang terdiri dari sekitar 600 ilmuwan dunia dan 113 wakil pemimpin dunia, menerbitkan pernyataan bahwa bumi akan terus memanas jika manusia tidak cepat merubah gaya hidupnya. Perusakan lingkungan hidup, gaya hidup konsumtif yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca berlebih, adalah sebab dari "pemanasan global" ini. Bahwa pemanasan global bersumber pada ulah manusia memiliki probabilitas lebih dari 90% menurut IPCC.
Lapisan gas rumah kaca pada atmosfer bumi berfungsi untuk menghangatkan bumi. Tanpa lapisan gas ini, bumi akan 33 °C lebih dingin, kehidupan tidak dapat terjadi. Pemanasan global terjadi akibat penebalan lapisan gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Sebagian besar gas rumah kaca yang terakumulasi secara berlebih berupa karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak dan batu bara).

Dalam kondisi "normal", sinar matahari yang menembus atmosfer bumi sebagian akan diserap bumi untuk menghangatkannya, sebagian akan memantul kembali keluar angkasa. Emisi gas rumah kaca yang berlebih menyebabkan sinar matahari yang semestinya memantul terperangkap di bawah lapisan gas yang menebal, bumi pun kian memanas.
Laju rata-rata pemanasan bumi sekitar 0.2 °C per dekade. Dalam skenario terburuknya, bumi akan memanas 2.4-6.4 °C selepas abad-21. Data satelit menunjukkan bahwa sejak dekade 1990-an, ketinggian permukaan laut telah meningkat 3.3 mm per tahun. Penelitian terakhir memperkirakan bahwa ketinggian permukaan laut akan mencapai 1.4 m pada 2100.
Jakarta Banjir? Mengingat 40 % dari wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut, dalam 100 tahun, Jakarta tidak hanya akan mengalami banjir. Jika laju pemanasan global tidak berubah, Jakarta mungkin salah satu kota yang akan lenyap dari permukaan bumi. Sedikitnya 25 % wilayah Jakarta atau sekira 160,37 km2 akan tenggelam pada 2050. Indonesia diperkirakan akan kehilangan sekitar 2,000 pulau pada 2030.

Merubah gaya hidup manusia saat ini menjadi suatu pilihan antara hidup dan mati. Selain kerja keras antar para ilmuwan untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi kondisi pelik ini, perubahan praktis tidak dapat terjadi tanpa kerja sama dan komitmen para pemimpin dunia, terutama mereka yang memegang andil besar dalam kontribusi emisi berlebih gas rumah kaca di muka bumi. Saat ini, negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia adalah Amerika Serikat. Hingga saat ini, dunia masih menunggu komitmen para pemimpin di negara adikuasa ini untuk bersikap.
Menurut mantan wakil presiden Al Gore, kebanyakan warga Amerika Serikat yang berkuasa saat ini, yang semestinya mampu bertindak, menganggap pastinya kontribusi manusia pada fenomena pemanasan global kurang layak untuk diperlakukan sebagai kebenaran karena bertentangan dengan agenda mereka yang berkepentingan: suatu "Inconvenient Truth".
Dalam film dokumenter yang berjudul sama, Al Gore membuat analogi katak dalam cangkir air yang sedang memanas. Seperti sang katak, manusia merasa cukup nyaman dan hanya duduk diam walau suhu air terasa memanas. Ketika air mencapai titik didih, katak tidak dapat bergerak lagi, menunggu detik-detik menuju ajalnya atau adanya tangan yang dapat mengangkatnya keluar. Apa yang akan dilakukan manusia jika air di dalam cangkirnya mencapai titik didih?
Sumber Pustaka:
1. http://www.nature.com/news/infocus/climatechange.html
2. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/09/0101.htm
3. http://www.stopglobalwarming.org/sgw_feature.asp?id=11
4. http://www.wwf.or.id/attachments/pdf/Q&AClimate.pdf
**Ilustrasi didapatkan dari: http://www.ucsusa.org/assets/images/global_warming/ghouse_effect.jpg dan http://www.suarapublik.org/images/Pict2_1.jpg
Thursday, February 8, 2007
Individu dan Kelompok
Mungkin karena tipe kepribadian atau pekerjaan, saya cenderung jarang berkenalan dengan orang baru. Saya selalu merasa tidak nyaman jika harus memperkenalkan diri ke seseorang. Saya menganggap berkenalan sebagai mengganggu orang, maka saya tidak mau mengganggu orang dengan mengenalkan diri sendiri.
Tapi tentunya berkenalan menjadi bagian hidup yang tak bisa saya hindari. Sejujurnya, saya suka memiliki kenalan baru; yang saya tidak suka adalah awal proses berkenalan karena saya sering tidak tahu harus berbuat apa.
Dari pengalaman pribadi, saya merasakan orang Indonesian dan Amerika memiliki gaya berkenalan yang berbeda. Sebagai pertanyaan pembuka percakapan, orang Indonesia cenderung bertanya daerah asal; bisa kota atau suku asal. Sedangkan orang Amerika (atau orang Indonesia yang tinggal di Amerika) cenderung memulai dengan menanyakan apa yang saya kerjakan.
Ini setidaknya memberikan ilustrasi mengenai perbedaan penilaian seorang individu menurut budaya Indonesia dan Amerika. Yang penting bagi orang Indonesia adalah asal-usul seseorang (ontologis). Disini ada asumsi implisit bahwa seorang individu tidak bisa lepas dari karakter tempat atau suku dimana dia dilahirkan. Nilai individu tidak bisa lepas dari nilai kelompok.
Sebaliknya, Amerika lebih peduli tentang apa yang seseorang perbuat atau kerjakan (pragmatis). Asal-usul seseorang tidak terlalu penting, karena orang Amerika percaya bahwa justru tugas individu untuk menemukan jati-dirinya yang sering berarti lepas dari tempat asalnya.
Tentu teori ini tidak berlaku untuk menerangkan kasus spesifik. Bush menjadi presiden bukan karena apa yang dia kerjakan tapi lebih karena dia keturunan keluarga terpandang. Sebaliknya, Suharto tetap bisa berkuasa meskipun dia adalah anak petani.
Saya hanya mengulang konsep umum bahwa budaya barat yang individualis dan timur yang kolektif juga terekspresikan, secara sadar atau tidak, dalam cara berkenalan.
Tugas Ibu

Tugas ibu itu apa sih? Apa kriteria untuk menjadi ibu yang baik? Bangun lebih pagi dari semua? Siapkan sarapan pagi? Cuci baju anak-anak dan suami? Apa?
Ibu saya tidak pernah menyiapkan sarapan pagi setiap hari, hanya jika beliau merasa sedang ingin melakukannya. Ibu saya lebih suka mencuci baju kita, walaupun ini juga tidak dilakukan beliau setiap hari karena memang selalu ada "pembantu" yang sebenarnya melakukan tugas ini. Bersih-bersih rumah? Sama sekali bukan kegemaran beliau. Apakah ini berarti ibu saya bukan ibu yang baik?
Walau Ibu saya tidak memiliki pekerjaan diluar rumah, alias ibu saya adalah seoarang ibu rumah tangga, Ibu saya memiliki individualitas yang cukup tinggi. Ibu saya bukan seseoarang yang suka bergaul diluar rumah. Ibu saya bisa berhari-hari diam di rumah, bukan karena ibu saya suka mengurus rumah, tapi karena ibu saya memang lebih suka diam dirumah. Sepertinya, ibu saya tidak akan merasa bahagia jika beliau bekerja di luar rumah.
Ibu saya adalah seoarang ibu yang tinggal dirumah bukan karena beliau gemar mengurus rumah. Kegemaran ibu saya adalah diam dikamar dan membaca. Apakah ini berarti ibu saya melalaikan tugasnya sebagai seoarang ibu?
Walau ibu saya bukan yang menyediakan makan atau terlihat menyapu ruangan, memandikan dan mencuci baju kami setiap harinya, saya tidak pernah merasa kelaparan, tubuh dan rumah kami selalu bersih dan baju-baju kami selalu siap pakai. Kita semua tumbuh menjadi anak-anak yang sehat. Semua ini memang berkat usaha para pembantu, tentu atas dasar bimbingan ibu saya, pemimpin keluarga kami di rumah.
Lalu apa yang ibu saya lakukan secara "langsung" untuk kami, anak-anaknya? Dari ibu, saya mengenal rasanya menjadi anak yang bahagia, disayangi dan terlindungi. Saya dapat merasakan ini karena ibu saya selalu ada jika saya memerlukan bantuannya dan perhatiannya. Ibu saya bukanlah tipe ibu yang lembut seperti dalam dongeng anak-anak. Ibu saya orang yang cukup ketus dan praktis. Dengan caranya sendiri, beliau telah berhasil mendidik saya juga kakak-kakak dan adik saya menjadi orang dewasa yang kuat menghadapi kompleksitas kehidupan. Ibu saya berhasil mendidik kami dan menyayangi kami, walau tanpa harus menyuapi kami makan atau memandikan kami tiap harinya di masa kanak-kanak.
Kadang saya merasa kaget bahwa ternyata ibu saya kadang lebih mengenal saya dari diri saya sendiri. Itu adalah bukti perhatian besar ibu saya terhadap saya.
Kata ibu saya, jadi seorang ibu rumah tangga sangat berat karena apapun yang kita lakukan, tidak ada penghargaan sebanding dengan seseoarang yang memiliki karir diluar rumah.
Dengan ibu saya sebagai contoh figur seorang ibu, definisi saya sebagai tugas seorang ibu yang baik bukanlah didasari atas suatu pekerjaan yang dapat dengan mudah di "wakili" oleh seorang pembantu, bahkan seoarang ayah. Ibu memiliki tempat khusus di hati setiap anaknya. Tugas seoarang ibu adalah untuk memupuk rasa cinta ini di hati sang anak hingga kelak dewasa nanti, sang anak dapat menyumbangkannya kembali ke generasi selanjutnya.
Ibu saya bukanlah seorang ibu yang terluput dari kesalahan layaknya seorang manusia. Tapi dengan caranya sendiri, beliau berusaha untuk memberi kita kesayangan yang hanya dapat hadir berkat usahanya untuk menjadi seorang ibu yang baik. Terima kasih ibu.
** Ilustrasi didapatkan dari situs http://artfiles.art.com/images/-/Makiko/Mother-Bears-Love-I-Print-C10286305.jpeg
Kolesterol dan Penyakit Jantung

Merujuk kepada posting terdahulu yang membahas perubahan diet keluarga kami akibat kadar kolesterol tinggi pada Toby, bocah berumur 3 tahun kami, teman bertanya: bukankah kolesterol tinggi baik untuk balita (ie. membuat otak jadi lebih pintar) hingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan?
Kolesterol tinggi, kata dokter bisa karena diet, akibat adanya keturunan dalam keluarga, atau akibat hubungan timbal balik antara keduanya. Untuk saat ini belum jelas sebabnya mengapa Toby memiliki kadar kolesterol agak tinggi. Perlu test darah ulang untuk Toby dan kedua orang tuanya untuk penyelidikan lebih dalam. Ini masih dalam proses. Tapi memang penanggulangan praktisnya adalah diet.
Kolesterol Toby, kata dokter, sebenarnya tidak terlalu tinggi, terakhir cek 208mg/dl. Batas normal kadar kolesterol untuk Toby kata dokter <170mg/dl. Berdasarkan penelitian referensi saya sendiri, batas normal kadar kolesterol orang dewasa < 200mg/dl, sementara kadar kolesterol >240mg/dl dalam darah bisa meningkatkan kemungkinan penyakit jantung sebanyak 2X.
Kolesterol memang diperlukan oleh tubuh manusia untuk menjaga fluiditas membran sel, komunikasi antar sel (ie. membuat otak jadi "pintar"), pembuatan berbagai jenis hormon dan Vitamin D. Kadar Kolesterol dalam darah yang terlalu banyak, hingga tidak berguna lagi untuk fungsi tubuh, tidak baik karena akan diserap oleh lemak "jahat" (saturated & trans fats) dan menumpuk di dinding-dinding pembuluh darah. Akibat akumulatifnya: penyakit jantung.
Kolesterol bisa didapatkan langsung dari diet, tapi lebih banyak lagi disintesa oleh liver dari lemak. Toby dan keluarga memang akhir-akhir ini lebih banyak makan sumber protein jenis nabati (ie. tahu) yang memiliki kadar kolesterol rendah juga mengandung lebih banyak jenis lemak "baik" (unsaturated & polyunsaturated fat). Lemak "baik" ini berfungsi untuk menghambat penumpukan kolesterol dan lemak "jahat" pada dinding-dinding pembuluh darah. Meningkatkan konsumsi sumber protein jenis nabati adalah pilihan saya untuk lebih praktis saja. Dokter Toby sendiri menganjurkan untuk memberi Toby makanan rendah lemak dan kolesterol (ie. susu rendah lemak dengan konsentrasi lemak 1%, menjauhi makanan yang "digoreng"). Beliau menganjurkan kami untuk mencari buku yang merinci pembuatan menu makan rendah kolesterol.
Fungsi dan distribusi kolesterol dalam tubuh seperti ini menunjukkan bahwa mengurangi lemak total juga kolesterol dalam diet tidaklah cukup. Saat ini badan kesehatan Amerika rekomendasikan untuk menghindari konsumsi lemak "jahat" dan menggantikanannya dengan jenis lemak "bagus", juga diet rendah kolesterol untuk menghindar dari kemungkinan penyakit jantung. Memang penyakit jantung adalah sebab utama kematian orang dewasa di Amerika. Proses pencegahannya paling baik adalah diet yang sehat, terutama jika dibiasakan sebagai gaya hidup semenjak kanak-kanak.
** Ilustrasi didapatkan dari situs http://www.womenone.org/images/chol2_2894.jpg
Wednesday, February 7, 2007
Amien Rais di Columbia
Amien Rais sedang berada di Amerika dan barusan dia memberikan kuliah umum di kampus saya.
Kuliah umum ini diselenggarakan oleh sebuah pusat riset baru mengenai agama, demokrasi dan toleransi. Indonesia menjadi salah satu fokus kegiatannya bersama dengan negara islam lain. Di kesempatan ini Amien Rais berbicara mengenai pengalaman pribadinya terutama ketika menjadi ketua MPR. Dia dianggap berhasil meletakan fondasi demokrasi (tanpa embel-embel 'demokrasi terpimpin' atau 'demokrasi pancasila') di Indonesia.
Dia menganggap masalah ideologi dan politik di Indonesia sudah selesai: Pancasila sebagai dasar negara tidak bisa diubah. Menurut dia masalah utama sekarang adalah memberikan bukti kepada rakyat bahwa demokrasi membawa perbaikan taraf hidup terutama secara ekonomi.
Amien dikenal sangat kritis terhadap perusahaan asing di Indonesia. Dia memperjelas posisi dia bahwa dia tidak menginginkan nasionalisasi perusahaan asing dan tidak menolak globalisasi. Yang dia permasalahkan adalah operasional penambangan yang dikuasai 100% oleh perusahaan-perusahaan asing. Menurut dia seharusnya Indonesia menjadi partner dengan memiliki andil dalam operasi penambangan (bukan dalam bagi hasil saja).
Kata Amien "Hugo Chavez bagus, tapi berdasar standar Indonesia dia terlalu arogan".
Ketika sesi tanya-jawab, terlihat dua pandangan berbeda antara Amien dengan para penanya. Untuk Amien masalah Indonesia yang harus dikhawatirkan adalah ekonomi. Sedangkan kebanyakan peserta lebih peduli atau khawatir soal kemungkinan penerapan syariat Islam di Indonesia.
Buat Amien, ideologi Pancasila sudah tidak mungkin dirubah. Aspirasi untuk penerapan syariat Islam selalu ada, tapi menurut dia, Indonesia tidak mungkin menjadi negara berdasar syariat Islam.
Amien memberikan dua cerita anekdot sebagai ilustrasi.
Pertama, ketika dia menjabat ketua MPR, dua pimpinan partai yang ingin merubah pasal 29 UUD menjadi (kira-kira): Indonesia berdasar syariat Islam yang harus dijalankan oleh muslim, datang ke kantornya. Mereka mengatakan bahwa usul mereka akan kalah di pemungutan suara MPR. Mereka meminta Amien untuk menyiapkan strategi untuk menyelamatkan muka mereka yaitu dengan meniadakan voting. Lalu Amien bertanya, jika memang anda tahu bahwa anda bakal kalah, kenapa anda selalu mengajukan ide tersebut. Kedua pemimpin partai tersebut mengatakan bahwa isu itu mereka lempar hanya untuk menyenangkan konstituen partai mereka. Mereka harus mengusung issu tersebut jika tidak ingin ditinggalkan pengikutnya.
Kedua, dia bercerita tentang seorang bupati yang dituntut oleh beberapa ulama di wilayahnya untuk menerapkan syariat Islam. Bupati ini lalu mengumpulkan para ulama tersebut dan memberikan dana bagi mereka untuk menyiapkan program penyiapan syariah Islam dalam hal administrasi kabupaten seperti peraturan pajak dan gaji pegawai. Setelah beberapa bulan para ulama ini kembali dengan tangan kosong karena mereka tak berhasil merumuskan program penerapan syariat Islam untuk administrasi tersebut.
Untuk kasus Aceh, Amien berharap suatu saat Aceh sadar bahwa eksperimen mereka dalam menerapkan syariat Islam secara jor-joran tidak akan membawa hasil positif.
Dari cerita diatas, Amien menyimpulkan bahwa menurut dia syariah Islam tidak akan pernah menjadi konstitusi Indonesia. Bagi saya orang Indonesia yang tinggal di Amerika, perbedaan ini menjadi semacam paradoks. Saya bisa mengerti kenapa orang di Amerika lebih peduli soal syariat Islam, dan pada saat yang sama, sebagai orang Indonesia saya juga mengerti bahwa ekonomi sehari-hari menjadi perhatian utama orang di Indonesia.
Amien juga menyinggung pekerjaan rumah yang belum selesai yaitu mengakhiri campur tangan militer di politik. Seorang peserta diskusi sangat terperangah ketika mengetahui bahwa militer Indonesia membiayai dirinya sendiri.
Isu mengenai perusahaan asing sebetulnya lebih menarik bagi saya, tapi karena saya masih memikirkannya maka saya tulis lain waktu saja.
Tuesday, February 6, 2007
Dompet hilang yang kembali
Sekitar dua minggu lalu, sehabis merayakan ulang tahun Toby yang ketiga, saya dan Iwan pergi ke Times Square untuk menonton film Pan's Labyrinth(:wikipedia). Sehabis nonton, alangkah terkejutnya saya ketika merogoh saku celana karena dompet saya tidak ada. Kita cepat-cepat kembali ke bioskop untuk mencari tapi hasilnya nihil. Akhirnya saya relakan dompet itu dan atas kebaikan Iwan meminjami uang saya bisa pulang dengan selamat.
Selain uang $40, kartu ATM, sekolah, SIM dan beberapa kertas lain, tidak ada dokumen penting lainnya. Karena sebelumnya saya sudah pernah kehilangan dompet juga.
Kehilangan pertama terjadi dekat kampus saya. Entah bagaimana dompet saya terjatuh. Tapi beruntung dompet saya bisa kembali. Ya kembali secara utuh. Seseorang mengirim email dan menyebutkan dompet saya dititipkan di seorang pegawai kafetaria di kampus. Sepertinya dia menemukan email saya melalui website sekolah saya.
Hari ini, saya mendapat surat yang agak tebal tanpa dilengkapi identitas pengirim. Ternyata isi surat itu adalah seluruh isi dompet saya, minus uang dan dompetnya itu sendiri. Seluruh kartu identitas ada disitu , juga cek yang belum saya uangkan. Jadi bisa dibilang, lagi-lagi, isi dompet saya kembali.
Meskipun uangnya tidak kembali, tapi saya cukup kaget karena ada yang bersedia mengirim isi dompet saya itu kembali. Mengingat kali ini dompetnya hilang bukan di seputar kampus, tapi di pusat keramaian tengah kota (:wikipedia). Mungkin saja uang saya dipakai untuk membeli perangko seharga 78 sen. Tapi saya masih bisa hargai kepedulian dia untuk mengembalikan barang-barang saya. Meskipun tidak berarti banyak karena saya sudah mendapatkan kartu-kartu pengganti yang hilang.
Memang masih ada kebaikan di kota New York.
Monday, February 5, 2007
Toby Masuk Harvard University: Petualangan Sekolah Para Bocah
oleh Tika
Toby, satu-satunya bocah kami yang baru saja merayakan ulang tahun ke-3-nya tanggal 26 Januari 2007 kemarin, baru saja selesai interview pertama sekolah "pre-school" Manhattan, New York City. Kata mama Toby, "Toby mah baru mau masuk sekolah-sekolahan saja sudah di-interview, pertama kali mama di interview kan waktu harus cari kerja setelah lulus kuliah!".
Ya, memang jaman sekarang, apalagi di Manhattan, kebanyakan anak sudah harus masuk sekolah sebelum TK sebagai preparasi masuk TK dan sekolah-sekolah selanjutnya. Memang jaman mamanya Toby, paling seumur Toby ya diam dirumah saja. Ceritanya memang, apalagi di kota se-kompetitif Manhattan, New York City, orang tua anak sudah didorong untuk cepat-cepat cari sekolah hingga anak akhirnya bisa masuk ke sekolah tinggi beken seperti Harvard University.
Dorongan ini mulai di saat masuk "sekolah-sekolahan" atau pre-school ini. Jika sang anak masuk pre-school yang tepat dengan koneksi yang tepat, sang anak bisa masuk TK, yang bisa memasukkan anak ke SD, yang bisa memasukkan anak ke SMP, yang bisa memasukkan anak ke SMA, yang bisa memasukkan anak ke sekolah tinggi tipe Harvard University. Ya sebenarnya tujuannya bukan hanya sekolah tipe Harvard University, tapi dengan sang anak bisa masuk dan lulus dari sekolah semacam Harvard University, anak terjamin bertahan hidup sebagai orang kelas menengah atas di Amerika dan terhindar dari kemelaratan ekonomi di Amerika.
Walau orang tua Toby tidak terlalu terdorong untuk berkompetisi dengan konglomerat, pejabat dan warga Amerika ultra kompetitif lainnya yang suka sekali bercita-cita memasukkan anak mereka ke Harvard University, Toby tetap didaftarkan oleh orang tuanya untuk masuk pre-school cukup ok karena kedua orang tua Toby terlalu sibuk dengan program studi Doktor mereka. Pre-school ok ini digunakan kedua orang tua Toby sebagai tempat penitipan sampingan saatnya tidak bisa diurus mama atau papanya di rumah.
Karena pengalaman buruk setahun sebelum ini, dimana Toby terpaksa harus drop out dari satu-satunya pre-school "asal" yang didaftarkan mama setelah sang mba pengurus Toby pergi balik ke Indonesia, hingga mamanya terpaksa drop out sementara dari program Doktornya untuk mengurus Toby dirumah, tahun ini Toby di daftarkan untuk masuk beberapa pre-school yang cukup ok.
Untuk masuk pre-school Manhattan manapun, memang diperlukan pendaftaran kira-kira satu tahun sebelum anak mulai masuk sekolah. Jika ternyata setelah tahun ajaran mulai dan diketahui bahwa sekolahnya jelek dan anak harus drop out, tidak ada lagi pre-school yang terbuka untuk bisa menampung anak karena semua sudah penuh. Ini yang terjadi oleh Toby tahun lalu.
Tentu, preschool yang didaftarkan orang tua Toby tahun ini bukan tipe pre-school yang kebanyakan konglomerat dan pejabat Manhattan dafarkan anak-anak mereka, tapi cukup ok hingga Toby tidak terganggu mental dan fisiknya, juga cukup ok karena memberi Toby peluang pula untuk "mungkin" bisa bertemu teman-teman, orang tua dan guru yang punya latar belakang ala Harvard University, jika tidak koneksi langsung untuk benar masuk ke jalur sekolah-sekolah menuju Harvard University. Untuk masuk tipe pre-school ok di Manhattan, persyaratan utama adalah interview sang anak sebagai proses penyeleksian.
Ya, sore ini Toby baru selesai interview pertama pre-school ok ini. Pre-school yang Toby usaha masuki ini dikategorikan sebagai tipe "Co-op" karena orang tua diharuskan untuk turut serta aktif dalam proses pencarian dana sekolah dan berbagai aktifitas ringan anak-anak disekolah. Karena jenisnya cukup ok, kompetisi untuk masuk ke pre-school ini cukup ok pula, walau tidak se-heboh pre-school para konglomerat dan pejabat tinggi Manhattan.
Dalam interview Toby tadi, Toby dan orang tua diharuskan datang, bersama dengan beberapa calon murid dan orang tua lain, untuk saling berinterkasi dalam ruang main pre-school. Ada satu guru dan pemimpin pre-school yang turut serta berinterkasi dengan anak dan orang tua, tapi mereka lebih berfungsi untuk menilai apakah para calon anak dan orang tua "cocok" untuk diterima masuk pre-school mereka. Tentu Mama Toby tidak tahu secara pasti kriteria mereka ini apa, yang jelas pastinya Toby jangan sampai ngamuk didepan guru dan berkelahi dengan anak-anak lain. Mama Toby wanti-wanti agar Toby jangan lupa untuk tidak ngamuk dan rebutan mainan di depan guru. Selebihnya, mama Toby pikir, Toby jadi Toby saja deh. Menurut mama, Toby anak yang cukup ok ko dengan sendirinya.
Toby tentu senang-senang saja main di sekolah karena banyak sekali mainan dan ruangannya sangat luas, suasana yang sangat beda dengan apartemen Toby yang pada musim dingin ini merupakan tempat Toby berlindung sehari-harinya dari kebekuan suhu luar. Mama dan papanya Toby juga senang dengan sekolah ini karena guru-gurunya baik-baik, juga karena filosofi sekolah ini sangat cocok dengan tipe Toby dan keluarga.
Di sekolah ini, anak-anak tidak "diajari" tapi anak di semangati untuk bereksplorasi dan berkembang secara sosial dan intelektual dengan "bermain" dan "bergaul" dengan anak-anak lain. Tidak ada pelajaran spesifik seperti "bahasa dan berhitung" dimana guru berdiri di depan kelas dan mengajarinya ke anak-anak. Tidak ada jadwal atau kurikulum khusus pula dalam keseharian anak bersekolah. Kurikulum berkembang berdasarkan minat sang anak.
Di sekolah ini, ruangan dibagi atas tema-tema tertentu dimana sang anak bisa bereksplorasi. Ada sudut "seni", "sains", "membaca", "teater", "rumah-rumahan", "balok" dsb. dimana anak-anak dengan bebas bisa secara bergantian melakukan eksplorasi dengan pengawasan guru. Tentu, pada saat-saat tertentu, anak-anak diharapkan untuk berkumpul di depan guru untuk melakukan eksplorasi dalam bentuk kelompok. Papanya sangat suka dengan sekolah ini karena guru-gurunya terlihat sangat respek dengan individu sang anak.
Untuk interview ini, Toby dan kawan-kawan berexplorasi di sudut "balok", juga sudut "rumah-rumahan" dan sudut "membaca". Toby sibuk sekali di bagian dapur rumah-rumahan. Mamanya pikir, ya sepertinya Toby terlalu banyak gaul dengan mama saja di rumah jadi hobinya ke arah ini. Mama agak malu karena setelah melihat gerak-gerik Toby di dapur mainan ini, ko spertinya mirip dengan gerak-gerik dan expresi muka mama jika sedang sibuk di dapur.
Tapi Toby juga suka main di bagian balok. Mama agak bangga karena Toby memperlihatkan ke guru bahwa Toby sudah pintar berinitiatif menyortir balok berdasarkan bentuknya dengan benar tanpa suruhan sang guru. Dan karena memang pada dasarnya Toby anak cerewet, Toby bisa menjawab omongan dan pertanyaan guru tanpa malu-malu. Moga-moga semua ini bisa jadi poin besar bagi Toby untuk bisa diterima masuk sekolah ini semester depan.
Setelah sekitar 30 menit, sang guru mengumumkan anak-anak untuk mulai membereskan mainannya ke tempat asal. Nah, ini memang kerjaan favorit Toby: untuk memasukkan segala sesuatu ke tempat asal dengan baik dan benar. Toby sempat merasa tidak enak melihat ada satu mainan yang pintunya terbuka dan melapor ke mama untuk menutupnya. Mama jawab, "biar saja nanti bu guru akan menutupnya". Ternyata Toby jadi melapor ke sang guru dan guru menjawab "ya tak apa Toby, biarkan saja pintunya", Toby diam berpikir dengan dahi berkerut dan rasa yang masih agak gelisah.
Kedua orang tua Toby berharap Toby bisa lolos masuk ke sekolah ini. Esok hari, Toby akan interview lagi untuk sekolah lain. Toby sudah mendaftar ke 4 sekolah untuk mulai masuk September 2007. Kedua orang tua Toby berharap Toby bisa lolos masuk ke semua sekolah yang didaftarkan!
Kompetisi untuk lolos interview pre-school di New York City, bisa jadi sangat menyeramkan. Ada cerita dimana sang orang tua menyajikan kopi ke sang anak sebelum interview agar anak menjadi "aktif". Ada anak-anak yang di teror orang tua dengan pengetahuan mengenai huruf-huruf, nomor dan simbol-simbol berminggu-minggu sebelum interview jadi anak bisa terlihat "pintar". Ada sekolah yang mengharuskan orang tua untuk menulis esai mengenai bagaimana anak mereka bisa lebih hebat dari calon murid lain. Bahkan ada yang menyajikan uang "imbalan" ke sekolah-sekolah agar sang anak bisa lolos masuk. Ya, ini terjadi di jenis pre-school ultra kompetitif, yang sering diminati oleh para konglomerat, pejabat tinggi dan orang-tua super kompetitif di Manhattan, New York City.
Untung saja, Toby bisa sedikit bebas dari teror kehidupan seperti ini karena kedua orang tua Toby memilih untuk tidak hidup di bawah teror. Jika semua gagal, tak apa-lah, mamanya Toby siap untuk melepaskan ke-Doktorannya untuk mengurus Toby hingga siap masuk TK.
**Ilustrasi: Toby dan "Cousin" Kai di depan pintu Sesame Street
Thursday, February 1, 2007
Korelasi atau kausalitas?
Ingin Jadi Vegan Di New York City: Puncak Gaya Hidup "Modern" ?
Semenjak menginjak kaki di New York City, saya jadi banyak mengenal orang-orang penganut aliran 'Vegan'. Saya baru mengenal istilah ini setelah tinggal di New York City. Dahulu kala, saya pikir dunia hanya terbagi atas orang-orang seperti saya vs. orang pemakan sayur-mayur (Vegetarian). Ternyata dunia lebih kompleks dari ini dan ada orang-orang di dunia ini yang menganut aliran anti produk apapun yang terbuat dari binatang. Inilah kelompok orang-orang Vegan. Selain anti dengan produk binatang, mereka berusaha hidup gaya minimalis. Vegan adalah suatu filosofi dan gaya hidup.
Saya istilahkan sebagai "gaya minimalis" untuk menjelaskan filosofi hidup mereka yang hanya menggunakan apa yang telah disediakan di alam se-minimal mungkin. Berusaha mencintai sesama mahluk hidup. Berusaha memperlihatkan aura ketenangan dalam interaksi sesama manusia. Kebanyakan Vegan tidak menganut aliran agama lain, dan banyak diantara mereka yang "Ateis", walau teman saya yang Vegan percaya pada Tuhan dan memiliki latar belakang agama Katolik.
Ternyata setelah 6 tahun tinggal di New York City saya mulai ketularan ingin mengikuti gaya hidup kelompok Vegan. Ini terjadi terutama setelah beberapa kali mencicipi jenis makanan ala Vegan, juga karena dokter telah menvonis bahwa bocah 3 tahun kami kemungkinan memiliki kadar kolesterol tinggi dalam test darah terakhir. Ini memaksakan saya untuk memodifikasi menu makan sehari-hari dirumah.
Menyantap makanan Vegan sebagai alternatif memang menjadi lebih mudah daripada harus menyusun menu sendiri karena jenis makan seperti ini dapat dengan mudah saya temukan di berbagai pelosok toko makanan dan supermarkat-supermarket di New York City. Ternyata makanan Vegan yang isinya biji-bjijian sebagai alternatif protein binatang dan sayur-mayur cukup nikmat, sedikit mengingatkan saya kepada makanan Sunda yang sungguh saya sukai. Dengan menyantap protein alternatif ini bersamaan dengan kadar sayur-mayur yang tinggi, saya dapat dengan mudah menurunkan kadar kolesterol dalam diet keluarga. Selain nikmat, setelah menyantap jenis makanan ini tubuh terasa lebih "tenang". Saya bisa melakukan aktifitas sehari-hari dengan otak yang lebih jernih dan gerakan fisik yang lebih "gesit" dari sebelumnya.
Ya memang gaya hidup Vegan sungguh menarik bagi saya. Mungkin jika memang saya akhirnya menetap di New York City saya akan berubah menjadi seorang Vegan? Perhatikan bahwa gaya hidup ini tidak banyak ditemukan selain di kota-kota besar di Amerika. Di kota-kota kecil Amerika, yang dikenal dengan istilah "Suburbia", justru yang terjadi adalah sebaliknya: lebih banyak orang hidup bergaya konsumtif tinggi, termasuk perihal diet, dan memang gaya konsumtif seperti ini lebih umum dilabel sebagai gaya hidup ala "Amerika", terutama oleh mereka yang tidak pernah tinggal di Amerika.
Tapi memang sulit bagi saya untuk menjadi Vegan penuh karena saya seorang Muslim yang seharusnya menerima produk binatang dalam makanan dan materi hidup sehari-hari sebagai sesuatu rezeki Allah yang harus dimanfaatkan. Ya mungkin saja, seperti yang sering terjadi di New York City, perbenturan budaya yang terjadi dalam diri saya akan melahirkan metamorfosis kultur baru ala Amerika.
Memang gaya hidup Vegan memerlukan teknologi dan kreatifitas yang cukup tinggi. Seoarang Vegan diharapkan untuk selalu mencari alternatif selain produk binatang untuk melakukan kompleksitas aktifitas yang kita ketahui sebagai kehidupan "modern". Sebagai pemerhati awam evolusi kebudayaan, menurut saya, Vegan tidak akan mungkin lahir sebagai suatu gaya hidup tanpa adanya pengalaman konsumtif kehidupan modern. Sebagai ilustrasi, sepertinya tidak mungkin seseorang yang tinggal di suatu desa di Jawa berubah menjadi seoarang Vegan karena Ia tidak pernah terpaksa untuk memikirkan dan mengalami akibat dari kultur hidup "modern".
Wednesday, January 31, 2007
Sindroma Kaki Gelisah
"Restless Leg Syndrome (RLS)" atau saya akan secara bebas terjemahkan sebagai "Sindroma Kaki Gelisah" adalah suatu gejala klinis yang baru-baru saja di nobatkan sebagai "penyakit" di Amerika saat ini. Ya, bahkan para dokter di Amerika pun banyak yang tidak tahu adanya "penyakit" RLS ini dan akibatnya, banyak yang tidak mampu untuk mendiagnosanya secara tepat. Saya sendiri mengenal adanya penyakit ini akibat promosi gencar-gencaran perusahaan obat X dalam beberapa iklan dramatis di TV Amerika mengenai obat anti RLS.
Bayangkan anda sedang duduk, menikmati saat-saat istirahat anda diatas kursi malas kesukaan anda. Mungkin anda sedang asik membaca koran, atau menonton acara di TV. Tiba-tiba, entah kenapa, anda merasakan adanya ketidak-nyamanan menjalar dari telapak kaki anda, perasaan menggelitik yang tidak bisa hilang hingga akhirnya anda harus beranjak dari tempat duduk anda. Kadang perasaan ini muncul pula ketika anda sedang berusaha tidur di malam hari. Ya, jika anda sering merasakan ini, kemungkinan besar anda mengidap penyakit RLS. RLS adalah suatu penyakit neurologis yang menyebabkan para penderitanya harus bangkit dan menggerakkan kaki walau sebenarnya yang diinginkan adalah kaki untuk diam bukan bergerak. Sepertinya terjadi suatu konflik antara aktifitas neuron-neuron di otak dengan gerakan otot-otot pada kaki para penderita RLS.
Berulang kali menyaksikan tanyangan iklan RLS di TV, saya akhirnya berkesimpulan bahwa sepertinya saya adalah salah satu dari penderita penyakit RLS ini, walau pada tahapan yang cukup ringan. Tiap sebelum tidur, saya harus bangun dan pergi ke kamar mandi hanya untuk menghilangkan perasaan menggelitik di kaki. Kadang perasaan ini muncul pula jika saya diharuskan duduk diam untuk mendengar suami saya Roby sedang curhat. Sering Ia merasa kesal akibat kelakuan saya ini. Ya, detik ini pun, saya sedang mengalami sedikit serangan RLS, walau mungkin karena tangan saya sedang bergerak mengetik tulisan ini dan kaki saya bisa bebas untuk bergerak sedikit-sedikit, saya bisa menahan rasa untuk bangkit dari tempat duduk saya ini. Dan sepertinya, untuk saat ini, serangannya cukup ringan hingga tidak mengharuskan saya untuk bangkit dan menggerakkan kaki.
Walaupun Sindroma Kaki Gelisah ini sering kali menggangu kenyamanan saya bahkan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya, sepertinya saya akan menahan diri dulu untuk bergegas pergi memaksa dokter saya menulis resep pil anti RLS. Ya, hingga saat ini saya masih bisa bertahan dan cukup bersedia untuk bangkit dari kenyamanan kursi atau tempat tidur saya pada saatnya saya mengalami serangan akut Sindroma Kaki Gelisah. Tentu untuk lebih pasti bahwa benar saya mengidap penyakit RLS, ada baiknya saya jenguk dokter pribadi saya. Tapi sepertinya, mengingat begitu barunya penobatan RLS sebagai suatu "penyakit", kemungkinan besar dokter saya pun tidak akan mampu untuk mendiagnosa keadaan ini lebih baik dari diri saya sendiri.
Monday, January 29, 2007
Langkah menuju doktor
Sewaktu masih kuliah di Bandung, saya pernah membaca buku Pengalaman Belajar di Amerika Serikat karya Arief Budiman. Saya baca habis buku kecil yang enak dibaca ini sambil berdiri di toko buku Gramedia Bandung. Setelah selesai membacanya, saya semakin bertekad bahwa suatu saat saya akan ke Amerika untuk sekolah dan bisa bercerita seperti dia. Kalau Arief Budiman menuliskan sebuah buku, untuk saya cukuplah menulis di blog.
Seperti perjalanan pada umumnya, saya mulai dengan menjelaskan posisi saya sekarang dalam perjalanan meraih gelar doktor.
Di Columbia (:wikipedia Indonesia), tempat saya sekarang, program PhD dibagi menjadi beberapa tahap. Meskipun kita diterima di program doktor, tetapi status resminya adalah kandidat MA. Selama dalam program MA, kita diharuskan mengambil kuliah selama 4 semester. Di akhir semester ke empat, kita harus mengambil ujian umum (ujian kualifikasi) dan menulis sebuah MA paper. Jika dinyatakan lulus maka kita mendapat gelar Master of Arts (MA) dan berhak menjadi kandidat M.Phil.
Sebagai kandidat M.Phil (Master of Philosophy) kita harus menyelesaikan seluruh persyaratan kuliah dan kredit: total kuliah 60 kredit. Selain itu kita juga harus menulis sebuah paper yang cukup berkualitas untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah. Paper ini dikenal sebagai M.Phil paper dan setelah selesai akan dibaca oleh dua orang profesor. Hasilnya ada tiga kemungkinan:
(1). Dinyatakan tidak lulus dan tidak berhak memperoleh gelar M.Phil - lalu harus keluar dari program dengan gelar MA,
(2). Dinyatakan lulus mendapat gelar M.Phil tapi tidak berhak menjadi kandidat PhD - lalu harus keluar program dengan gelar M.Phil,
(3). Dinyatakan lulus memperoleh gelar M.Phil dan berhak meneruskan menjadi kandidat PhD.
Setelah memperoleh gelar M.Phil dan baru resmi menjadi kandidat doktor, ujian selanjutnya adalah menulis proposal disertasi. Untuk ini kita perlu membuat komite disertasi yang terdiri dari tiga profesor. Jika proposal disertasi diterima maka diteruskan dengan riset untuk disertasi yang diakhiri dengan sidang akhir pengukuhan doktor. Jika lulus ujian akhir ini barulah gelar doktor diberikan.
Lalu saya ada dimana?
Meskipun para profesor di komite disertasi saya telah menandatangani bukti persetujuan proposal disertasi bulan Desember lalu, saya masih harus membuat revisi. Mereka menganggap riset saya terasa seperti beberapa buah paper yang tidak saling berhubungan. Jadi sekarang saya sedang berusaha meyakinkan para profesor dan diri saya sendiri bahwa disertasi saya adalah sebuah karya intelektual yang koheren.
Sedangkan Tika lebih maju dari saya, dia sudah menyelesaikan kira-kira 70% disertasinya. Tapi karena kita harus gantian mengurus anak yang belum sekolah tanpa bantuan orang lain, jadi tidak mungkin kita berdua bekerja full time; salah satu diantara kita harus ada yang part time. Sekarang adalah giliran saya untuk bekerja full time. Oh ya, sekedar info, sekarang saya ada di tahun kelima di program ini dan Tika di tahun ke empat.
Dilain waktu saya akan ceritakan detail langkah-langkah di atas dan bagaimana saya melaluinya. Perlu dicatat bahwa tidak semua universitas memiliki persyaratan sama seperti yang saya tulis di atas. Bahkan dalam satu universitas yang sama pun tetapi berbeda program atau departemen, persyaratannya bisa berbeda.
Sunday, January 28, 2007
Calon Doktor
Saya ingin bereksperimen dengan blog ini. Yaitu dengan memfokuskan isi blog ini sebagai catatan resmi perjalanan kita menjalani program doktor di Amerika. Saya pikir ini lebih cocok untuk saya daripada berpura-pura menjadi ahli atau pakar dan berusaha membuat blog yang 'cerdas dan kritis' karena sejujurnya saya belum cukup dewasa secara intelektual.
Tentunya cerita pengalaman menjalani program doktor bukanlah sesuatu cukup menarik untuk sebuah acara reality show di TV, tapi sepertinya cukup pantas untuk sebuah blog. Ada beberapa alasan kenapa cerita calon doktor perlu ada:
- Untuk para calon doktor lain, cerita kita bisa menjadi pelipur lara bahwa anda tidak sendirian menjalani perjalanan yang sepi tetapi penuh gejolak.
- Untuk mereka yang ingin menjadi doktor, cerita kita bisa menjadi mikroskop untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang menjadi calon doktor. Komitmen seperti apa yang dibutuhkan dan imbalan apa yang mungkin diperoleh.
- Untuk mereka yang sudah menjadi doktor, anggaplah ini sebagai nostalgia masa muda.
- Karena situasi kita, suami istri calon doktor dengan seorang anak laki-laki umur 3 tahun, jadi kita juga bisa berbagi pengalaman diluar urusan sekolah, misalnya bagaimana mengatur keluarga dan sekolah atau pengalaman membesarkan anak di New York.
- Untuk mereka yang tidak berniat menjadi doktor atau tidak peduli soal ini, ya paling tidak blog ini bisa jadi bacaan ketika bosan (dengan probabilitas tinggi anda akan menjadi lebih bosan).
Meskipun sangat mungkin blog ini berubah bentuk menjadi sebuah buku harian anak sekolahan, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk kita menulis isyu-isyu yang berhubungan dengan bidang yang kita tekuni atau hal-hal yang lebih 'serius' (apakah ada yang lebih serius daripada soal kehidupan itu sendiri alias curhat?). Selain curhat, refleksi, kuliah pendek dan analisis kita juga akan menuliskan informasi mengenai pendidikan tinggi di Amerika (mungkin berguna bagi mereka yang berniat sekolah di Amerika).
Seperti eksperimen pada umumnya, kita hanya bisa berharap eksperimen ini akan selesai dengan akhir yang indah.
Wednesday, January 24, 2007
"Memilih" untuk pensiun
Karena membaca ini saya jadi ingat sebuah cerita yang saya dengar dari seorang profesor ekonomi di kampus saya.
Departemen ekonomi dan sekolah bisnis di kampus saya termasuk kuat di negara ini dan dipenuhi profesor-profesor brilian. Kebanyakan pegawai di Amerika mengikuti program investasi untuk masa pensiun (misalnya 401k:wikipedia), termasuk profesor-profesor ini. Setiap orang harus membuat alokasi sendiri untuk programnya. Misalnya, berapa persen di investasikan di saham, berapa persen di obligasi, berapa persen di saham blue chip dll. Intinya program ini memang dibuat agar setiap individu bisa memiliki program investasi sesuai dengan preferensi masing-masing.
Kita bisa mengira bahwa para profesor ini akan melakukan pilihan alokasi yang canggih sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Perkiraan ini juga konsisten dengan teori tradisional ekonomi dimana orang akan memilih sesuai preferensi masing-masing.
Tapi yang terjadi, menurut cerita seorang profesor tersebut, biasanya para profesor ini pergi ke sekretaris di departemen dan menanyakan bagaimana kebanyakan orang membuat alokasi investasi. Lalu, biasanya, mereka meminta alokasi yang sama dengan yang dipilih kebanyakan orang.
Ternyata, ikut-ikutan orang bukan hanya monopoli orang berpendidikan rendah. Para pakar elit ini pun memilih untuk mengikuti orang untuk sebuah keputusan penting pribadi yaitu persiapan masa pensiun.
Politik Dinasti
Hillary Clinton baru saja resmi mencalonkan diri menjadi kandidat presiden Amerika. Jika dia terpilih, maka Amerika akan dipimpin oleh dua keluarga selama dua dekade: Bush, Clinton, Bush, Clinton.
Jika terjadi, ini memang cukup ironik karena terlihat bertentangan dengan salah satu idealisme Amerika yaitu meritokrasi (meskipun riset tentang mobilitas ekonomi menunjukkan kemungkinan orang miskin menjadi kaya dan kaya menjadi miskin di Amerika tidak terlalu berbeda jauh dengan Inggris dimana sekat sosial masih kuat).
Meskipun demikian, seorang presiden tetaplah individu bukan keluarga.
Contohnya adalah ketika presiden Bush kedua bersiap-siap akan menyerang Irak, dia sama sekali tidak meminta nasihat dari satu-satunya orang yang punya pengalaman menyerang Irak: sang ayah presiden Bush pertama. Memang tidak jelas apakah jika kedua presiden tersebut saling bertukar pikiran maka hasilnya akan lain. Tapi ini cukup menunjukkan bahwa diantara ayah dan anak pun bisa ada jurang cukup lebar. Sebagian orang menganggap ini sebagai cara sang presiden Bush kedua untuk menunjukkan bahwa dia mampu menangani masalah sendiri tanpa perlu meminta bantuan ayah.
Efek negatif dari dinasti politik yang paling sering kita dengar adalah nepotisme dimana hubungan keluarga membuat orang yang tidak kompeten memiliki kekuasaan. Tapi hal sebaliknya pun bisa terjadi, dimana orang yang kompeten menjadi tidak dipakai karena alasan masih keluarga.
Seorang kolumnis koran New York Times mengusulkan jika Hillary Clinton terpilih menjadi presiden sebaiknya dia menunjuk suaminya Bill Clinton yang dikenal sebagai politikus sangat berbakat untuk menjadi menteri luar negeri.
Meskipun kemungkinan untuk ini kecil, tapi menarik mengamati sampai sejauh mana isu nepotisme bakal menjadi perhatian publik dan politikus Amerika.
Wednesday, January 17, 2007
Hollywood
Kampus saya, Columbia University, sering dipakai tempat untuk
pengambilan film. Beberapa film terkenal yang memakai Columbia adalah
Ghostbusters dan Spiderman (ceritanya, Peter Parker pertama kali
digigit laba-laba di lab Columbia dan selanjutnya dia sekolah disitu).
Saya dan istri senang melihat-lihat kesibukan saat pengambilan film
ini. Selain melihat aktor-aktor terkenal dari dekat, saya kagum dengan
begitu rumitnya proses pengambilan film. Sehari sebelumnya, biasanya
kampus telah dikelilingi oleh belasan truk-truk trailer raksasa yang
berisi generator, pakaian, tempat rias aktor hingga tempat makan.
Semuanya dilakukan secara profesional, bahkan figuran yang kerjanya
hanya lalu lalang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan film atau
mereka yang sedang belajar seni peran. Tidak ada detail yang terlewat
atau dibiarkan begitu saja, semuanya direkayasa secara rapi.
Saya terkesan oleh kerja keras dan profesionalitas mereka ini. Dalam
hati saya berpikir, hanya untuk membuat film yang notabene adalah
hiburan, dikerjakan dengan tingkat keseriusan yang tinggi. Saya
terkesan. Saya pikir ini contoh kebudayaan tinggi dimana begitu besar
usaha dan sumber daya demi hiburan.
Sekarang pikiran saya lain.
Anda yang pernah menonton film War of the Worlds pasti ingat adegan
dimana sebuat pesawat jumbo jet B-747 jatuh di sebuah daerah pemukiman
di pinggir kota. Reruntuhan pesawat itu adalah pesawat asli B-747 yang
dipreteli dari tempat pembuangan pesawat dan dibawa satu persatu bagiannya ke studio di California yang lalu di bangun kembali. Selain itu mereka pun membuat reruntuhan rumah-rumah yang rusak dan terbakar. Barang rongsokan dan sampah berserakan dimana-mana (setiap posisi sampah adalah hasil pengaturan yang teliti). Totalnya, tidak kurang dari $500 ribu dihabiskan untuk membuat settingnya. Adegan di setting ini masuk ke filmnya selama 3 menit.
$500 ribu habis untuk adegan 3 menit, itulah Hollywood.
Jika sebelumnya saya berpikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan
tinggi, sekarang saya pikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan yang
sakit.
Dibanding film alternatif, saya sering lebih suka film Hollywood.
Mungkin Hollywood ada bagusnya juga, paling sedikit membuat orang
seperti saya terhibur. Hollywood mungkin dunia material sempurna;
dimana orang-orang yang pintar, kreatif, cantik, tampan, berkuasa dan
kaya bersatu. Hollywood jelas lebih populer di dunia dibanding
pemerintah Amerika. Pemerintah Amerika harusnya belajar dari Hollywood
bagaimana caranya agar bisa menguasai dunia.