Wednesday, March 7, 2007

Manusia Super Di Amerika

oleh Tika

Orang-orang Amerika memang manusia super. Mereka dapat menjadi manusia super bukan karena mereka diturunkan untuk menjadi orang-orang super, tapi karena kondisi hidup mereka membuat mereka 'terpaksa' untuk menjadi super.

Individualitas versi Amerika terdefinisikan atas suatu kemampuan tiap manusia untuk dapat berdiri sendiri. Di gedung apartemen saya banyak orang-orang tua jompo yang hidup sendirian. Melihat ini orang Indonesia mungkin akan bertanya, "Apakah mereka tidak punya anak atau apakah memang anak-anak mereka tidak peduli lagi?

Ya, kebanyakan orang-orang jompo ini mungkin punya anak yang mungkin ingin sekali membantu mereka. Tapi sebagian besar orang jompo di Amerika memang memilih untuk hidup sendiri karena mereka ingin tetap dihargai sebagai seorang manusia yang dapat berdiri sendiri. Untuk menghargai kemauan mereka ini, banyak fasilitas tersedia yang dibuat khusus untuk mendukung para jompo agar dapat hidup sendiri di rumah mereka sendiri, sebisa mungkin hingga akhir hayatnya.

Kehidupan para jompo adalah ilustrasi drastis mengenai tabiat kesuperan para warga yang hidup di Amerika. Saat ini saya sedang mengalami dorongan lingkungan yang mengharuskan saya untuk menjadi manusia super. Terus terang, saya menjadi serba kesulitan karena dengan didikan saya sebagai orang kelas menengah di Indonesia, saya menjadi sangat tidak 'biasa'.

Kebanyakan warga Amerika tidak mampu untuk menyewa seorang mba atau mbo untuk mengurus anak mereka yang masih belum beranjak umur untuk memasuki taman kanak-kanak. Usia balita hingga sebelum taman kanak-kanak memang masa yang paling sulit bagi orang tua yang status perekonomiannya sangat marginal.

Sekolah taman kanak-kanak hingga SMU bebas biaya dan anak hampir bisa penuh hari diam di sekolah sementara ibu ayah bekerja. Sebelum masa ini, orang tua seperti ini akan dihadapi berbagai kesulitan. Jika mereka beruntung, bisa saja mereka menitipkan anak mereka di suatu tempat penitipan dengan biaya tidak terlalu mahal walau kualitas mungkin tidak menjanjikan. Kebanyakan warga Amerika harus melalukan ini karena mereka tidak punya pilihan lain. Kedua orang tua harus bekerja untuk dapat mehidupkan keluarga. Sementara filosofi individualitas ala Amerika mengharuskan mereka untuk sebisa mungkin tidak meminta bantuan sanak saudara untuk mengatasi kesulitan mereka ini.

Anehnya, warga Amerika bisa tetap selamat menghadapi masa kritis ini atas upaya kedua tangan mereka sendiri. Tentu kesuksesan ini tidak dapat terjadi tanpa adanya dukungan lingkungan yang menjunjung tinggi nilai individualitas ala Amerika. Sebagai contoh, fasilitas untuk mempermudah dan mempercepat usaha seorang ibu bersama dengan bapa dan anak-anaknya membersihkan lantai, menyuci baju, memasak dsb. beraneka ragamnya, walau tetap memberi kesan bahwa pekerjaan adalah buah hasil usaha kedua tangan mereka sendiri.

Ya saya sangat kagum dengan orang-orang Amerika seperti ini. Terus terang saya sendiri merasa tidak mampu dan harus menelepon ibu saya di Indonesia untuk mengirimkan seorang mba untuk membantu mengurus anak saya. Setelah mba pergi, saya tidak tahan sekali lagi untuk menelepon ibu agar bisa datang mengurus anak saya sementara saya dan suami membanting tulang meniti karir demi masa depan kehidupan keluarga. Ternyata, karena hal-hal diluar kendali, ibu saya tidak juga mampu memberi bantuan seperti yang saya harapkan, dan saat ini saya harus menerima untuk terus bertahan hidup layaknya manusia super di Amerika.

Semoga saya bisa tertularkan tabiat individualitas ala Amerika hingga saya dapat melewati masa-masa kritis ini. Saya baru sadar, bentuk doa orang Amerika ketika dihadapi suatu masalah bukanlah suatu permintaan ketabahan dari Illahi karena doa seperti ini tidaklah cukup. Doa orang Amerika adalah untuk dapat terus berusaha menggunakan kedua tangan mereka sendiri agar dapat dihargai hidup layaknya seorang manusia.

9 comments:

Rani said...

yah memang dalam dunia masakini yg berada dalam bingkai paternalistik, membesarkan anak (yang dulunya sesuatu yg lumrah) menjadi sesuatu yg luar biasa dan butuh effort. Kalau mimpi saya, kapan dunia jadi lebih maternalistik dan mengintegrasikan upaya para orangtua dalam membesarkan anak dengan kehidupan seharihari?

Kang Adhi said...

mungkin bukan super. karena yang anda anggap super adalah sesuatu yang lumrah di sana. Kebanyakan orang Indonesia terlalu dimanja saya kira.

Tika said...

" membesarkan anak (yang dulunya sesuatu yg lumrah) menjadi sesuatu yg luar biasa dan butuh effort."

bedanya jaman dulu dgn sekarang, dulu kita tidak banyak aware mengenai bagaimana kita dapat memanipulasi kehidupan sang anak supaya dia dapat 'terurus dengan baik'. ya jaman dulu mungkin memberi makan ke sang anak sudah 'cukup'.
Sekarang, apalagi di kota se-'modern' new york city, tips dan berbagai cara untuk membesarkan anak dengan cara 'lebih baik' berlimpah2. Bagi mereka yang tidak bisa melakukannya, bisa jadi akan merasa 'minder' dan 'kewalahan'.
Mungkin Effort yang luar biasa utk membesarkan anak terjadi lebih karena terlalu banyak informasi di dunia modern?

Saya sendiri bisa mengurangi stress membesarkan anak saya dengan cara menutup diri dari berbagai macam informasi ini.

Mengenai dunia maternalistik vs paternalistik, memang amerika sangat paternalistik. Anda akan diberi hukuman secara ekonomi jika anda kelamaan mengurus anak anda. Integrasi dunia keluarga sebagai suatu realitas ekonomi saya juga impikan.

Tika said...

"mungkin bukan super. karena yang anda anggap super adalah sesuatu yang lumrah di sana. Kebanyakan orang Indonesia terlalu dimanja saya kira."

ya saya setuju.

ichan said...

Insya Allah tahun ajaran ini aq akan bergabung dengan suami yg sedang study di TU delft, ibuku dengan gigihnya menyarankan agar aq mendaftarkan untuk kuliah juga, walhasil aq di terima jg di univ yang sama, ibuku ini dengan girangnya bilang "you are ready to leave your comfort zone" pandangan beliau hidup di Indonesia itu terlalu nyaman, ada mba/mbo, kendaraan, makan enak, hawa nyaman, sebentar lagi aq dan putriku usia 3 thn akan merantau ke negri kincir angin, bertugaskan menjadi seorang master student dan ibu, sejujurnya aq deg-degan sekali, moga2 tika bisa berbagi pengalaman tentang berperan sebagai student dan ibu

Anonymous said...

manusia super ???? disana mungkin sudah biasa saja ...perasaan orang indonesia disana juga pasti terpacu untuk mandiri ....

kali si mbak terlampau terpukau sama standar mereka tuh ...kita punya standar sendiri tapi kalo dibilang bangsa kita ga super ya ga juga sih hehehehe

el7cosmos said...

menurut saya, otak manusia itu tidak ada batasannya!

el7cosmos said...

menurut saya, otak manusia itu tidak ada batasannya!

Anti Login said...

wah wah wah... hebat... rame2

salam kenal... saya sedang mengkampanyekan Blogspot Template 2010.
mohon dukunganya... terima kasih