Wednesday, January 17, 2007

Hollywood

oleh Roby

Kampus saya, Columbia University, sering dipakai tempat untuk
pengambilan film. Beberapa film terkenal yang memakai Columbia adalah
Ghostbusters dan Spiderman (ceritanya, Peter Parker pertama kali
digigit laba-laba di lab Columbia dan selanjutnya dia sekolah disitu).

Saya dan istri senang melihat-lihat kesibukan saat pengambilan film
ini. Selain melihat aktor-aktor terkenal dari dekat, saya kagum dengan
begitu rumitnya proses pengambilan film. Sehari sebelumnya, biasanya
kampus telah dikelilingi oleh belasan truk-truk trailer raksasa yang
berisi generator, pakaian, tempat rias aktor hingga tempat makan.
Semuanya dilakukan secara profesional, bahkan figuran yang kerjanya
hanya lalu lalang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan film atau
mereka yang sedang belajar seni peran. Tidak ada detail yang terlewat
atau dibiarkan begitu saja, semuanya direkayasa secara rapi.


Saya terkesan oleh kerja keras dan profesionalitas mereka ini. Dalam
hati saya berpikir, hanya untuk membuat film yang notabene adalah
hiburan, dikerjakan dengan tingkat keseriusan yang tinggi. Saya
terkesan. Saya pikir ini contoh kebudayaan tinggi dimana begitu besar
usaha dan sumber daya demi hiburan.

Sekarang pikiran saya lain.


Anda yang pernah menonton film War of the Worlds pasti ingat adegan
dimana sebuat pesawat jumbo jet B-747 jatuh di sebuah daerah pemukiman
di pinggir kota. Reruntuhan pesawat itu adalah pesawat asli B-747 yang
dipreteli dari tempat pembuangan pesawat dan dibawa satu persatu bagiannya ke studio di California yang lalu di bangun kembali. Selain itu mereka pun membuat reruntuhan rumah-rumah yang rusak dan terbakar. Barang rongsokan dan sampah berserakan dimana-mana (setiap posisi sampah adalah hasil pengaturan yang teliti). Totalnya, tidak kurang dari $500 ribu dihabiskan untuk membuat settingnya. Adegan di setting ini masuk ke filmnya selama 3 menit.


$500 ribu habis untuk adegan 3 menit, itulah Hollywood.


Jika sebelumnya saya berpikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan
tinggi, sekarang saya pikir Hollywood sebagai contoh kebudayaan yang
sakit.


Dibanding film alternatif, saya sering lebih suka film Hollywood.
Mungkin Hollywood ada bagusnya juga, paling sedikit membuat orang
seperti saya terhibur. Hollywood mungkin dunia material sempurna;
dimana orang-orang yang pintar, kreatif, cantik, tampan, berkuasa dan
kaya bersatu. Hollywood jelas lebih populer di dunia dibanding
pemerintah Amerika. Pemerintah Amerika harusnya belajar dari Hollywood
bagaimana caranya agar bisa menguasai dunia.

2 comments:

Oskar Syahbana said...

Mereka memang patut diacungi jempol (salah satu yang saya suka dari kebudayaan US), mereka pasti mengerjakan segala sesuatu dengan bersungguh-sungguh. Beda euy dengan yang disini, mahasiswanya saja pengen cepet2 lulus tapi dengan dasar ilmu yang sangat minim :P

Roby said...

oskar: Sayangnya mereka nggak sungguh2 membangun Irak :P.
Mungkin bisa lulus tepat waktu (4thn?) dengan ilmu yg cukup? :D